Minggu, 09 Mei 2021 19:45

​Jacob Oetama, Aktivis Katolik, Wartawan Santun, Bukan Penantang Maut

Rabu, 09 September 2020 17:32 WIB
Editor: MMA
​Jacob Oetama, Aktivis Katolik, Wartawan Santun, Bukan Penantang Maut
Jakob Oetama. Foto: kompas

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kepergian Jakob Oetama banyak meninggalkan kenangan. Tokoh pers itu meninggal dunia hari ini, Rabu (9/9/2020). Jakob yang dikenal sebagai pendiri Kompas Gramedia itu meninggal dalam usia 88 tahun. 

Dikutip dari Biografi Pengusaha, Jakob Oetama hidup dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Ia juga menempuh pendidikan di SMA (Seminari) di Yogyakarta. Bahkan ia juga pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Jakob Oetama memang seorang Katolik yang taat.

Sebelum berkarir total sebagai wartawan, ia sempat menjadi guru. Ia mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta.

Karir jurnalistik Jakob memang dimulai ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956. Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.

BACA JUGA : 

Habiskan RP 8 M untuk Sedekah Selama Ramadan, Kiai Asep: Inilah Manisnya Iman

Prahara Rumah Tangga Pemilik Empire Palace Surabaya, Setrap Istri Berdiri Semalam Suntuk

Peduli Terhadap Dunia Pendidikan, Kiai Asep Dianugerahi Penghargaan Tokoh Pendidikan Islam Kultural

Ketika Surat Kabar The Straits Times Singapura Jadi Lembaga Not For Profit

Pada tahun 1965 ia mendirikan koran Harian KOMPAS. Usaha Jakob berkembang pesat sehingga menjadi Kompas Gramedia yang bergerak di berbagai bidang, termasuk buku, hotel, dan sebagainya.

Saat menjadi wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar.

"Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar," katanya dikutip biorafi-tokohpengusaha.blongspot.com.

Di mata Jakob, Ojong kuat di bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar kuat dalam persoalan humaniora. Majalah Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Pada 3 Oktober 2011, Dahlan Iskan pernah menulis tentang karakter lurus Jakob Oetama. Menurut dia, Jakob Oetama adalah tokoh pers yang fokus. Jakob, tulis Dahlan Iskan, adalah tokoh pers yang tak gampang tergiur dengan rayuan.

“Pak Jakob adalah contoh dari sedikit orang yang bisa fokus. Sejak pikiran sampai tindakan. Godaan-godaan di luar pers tidak pernah meruntuhkan kefokusannya mengurus media. Padahal, sebagai pemimpin dan pemilik grup media nasional yang terbesar dan paling berpengaruh, pastilah begitu banyak rayuan dan iming-iming,” tulis Dahlan Iskan, tokoh pers nasional asal Takeran Magetan Jawa Timur itu.

Bukan hanya itu. “Beliau termasuk tokoh yang tidak mau menjadikan organisasi pers sebagai batu loncatan untuk berkarir di politik,” tulis Dahlan Iskan, wartawan besar yang hingga kini sangat produktif melahirkan karya-karya berharga. Karena itu wajar jika Kompas Gramedia menjadi sangat besar.

Yang menarik, Dahlan Iskan juga mendeskripsikan penilaian para wartawan generasi yang lebih muda terhadap Jokob Oetama.

“Generasi yang lebih muda (meski sekarang saya sudah tergolong generasi tua) memberikan dua penilaian kepada Jakob Oetama. Beliau dikecam sebagai wartawan penakut. Bukan sosok wartawan pejuang yang gagah berani menantang maut, seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), atau Rosihan Anwar (Pedoman), atau Tasrif (Abadi), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Nono Anwar Makarim (Kami), Goenawan Mohamad (Tempo), dan beberapa lagi.

Di pihak lain dia dipuji sebagai wartawan yang santun, mengurus anak buah (termasuk kesejahteraan wartawan) dengan baik, dan sosok yang sangat menonjol tepo seliro-nya. Beliau juga tokoh yang kalau berbicara di depan umum lebih mengedepankan filsafat daripada masalah-masalah yang praktis. Misalnya, filsafat kritik. Sampai-sampai di era Orba itu muncul berjenis-jenis filsafat kritik. Ada kritik pedas macam Mochtar Lubis, kritik manis model Jakob Oetama, atau kritik jenaka model Goenawan Mohamad,” tulis Dahlan Iskan. (tim)

Bernuansa Menara Kudus, Mushola An-Nabaat Diresmikan Wabup Nganjuk
Minggu, 09 Mei 2021 00:50 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Cita Indonesia Group, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, pertanian, dan peternakan, meresmikan Mushola An-Nabaat yang berlokasi di Desa Batembat Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Peresmian mushola ini dil...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Minggu, 09 Mei 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Tulisan Dahlan Iskan kali ini sangat menyentuh. Tentang prahara rumah tangga pemilik Gedung Empire Palace Surabaya: Gunawan Angkawidjaja dan istrinya, Chin Chin atau Trisulowati.Menurut Dahlan Iskan, Gunawan bukan ha...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...