"Mungkin karena perizinan yang mudah dan infrastruktur yang memadahi itu membuat para investor berbondong-bondong masuk ke Gresik," katanya.
Menyikapi rencana masuknya Freeport di Gresik, Bupati meminta kepada BPPM agar soal perizinan dibicarakan bersama-sama. Sehingga, segala keperluan yang dibutuhkan oleh para investor bisa terpenuhi dengan baik.
"Kami tidak pernah memersulit perizinan jika semua persyaratan yang dibutuhkan lengkap," pungkasnya.
Sementara Wabup, Moch Qosim mengatakan, pihaknya tidak akan memersoalkan rencana masuknya PT Freeport yang akan membangun pabrik Smelter di Kabupaten Gresik. Sejauh semua persyaratan dipenuhi. Termasuk lokasi pabrik Freeport tersebut sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) milik Pemkab Gresik yang berlaku hingga tahun 2030.
"Tidak ada masalah, baik Freeport atau yang lainnya asalkan tidak menyalahi RTRW dan semua persyaratan yang dibutuhkan lengkap, ya kami terima," katanya.
Menurut Qosim, makin banyaknya investor masuk ke Gresik makin menambah pundi-pundi pendapatan bagi Kabupaten Gresik. Sehingga, bisa membantu memercepat laju pembangunan di kota santri ini. Selain itu, bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru.
"Sehingga, bisa mengurangi angka pengangguran dan angka kemiskinan di Kabupaten Gresik," jelasnya.
Qosim menambahkan, makin banyaknya investor yang lakukan investasi di Kabupaten Gresik, membuat kekuatan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kabupaten Gresik dalam kurun 4 tahun lebih ini mengalami lonjakan sangat tajam. Jika di awal Sambari-Qosim (Bupati-Wabup) menjabat pada 27 September 2010, angka APBD Gresik baru menginjak sekitar 900 miliar, pada tahun 2015 atau pemerintahan SQ berjalan 4 tahun 4 bulan, APBD Gresik sudah tembus Rp 2,5 triliun lebih.
"Itu semua atas kerjasama yang baik antara semua pihak dalam mewujudkan Gresik bisa lebih baik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




