
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Nasib petani padi di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Jember berbanding terbalik dengan yang dialami oleh petani Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan.
Jika petani di Desa Dukuh Demok Kecamatan Wuluhan baru saja menggelar panen raya, mereka harus gigit jari setelah tanaman padinya gagal panen disebabkan karena serangan hama wereng.
Abdul Manab, salah satu pemilik tanaman padi warga Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Jember, mengelus dada karena kerugian yang dialaminya. "Milik saya luasan kurang lebih setengah hektare hanya mendapatkan uang Rp 2,3 juta," keluhnya.
"Padahal, untuk biaya tanam dan perawatannya sudah kurang lebih 10 hingga 15 juta," tambahnya.
Untuk menyiasati kerugian yang lebih besar lagi, masyarakat setempat memilih untuk panen lebih awal dari yang seharusnya.
"Itu pun harus dipanen sebelum masa panen. Jika dibiarkan, maka akan habis tidak akan merasakan hasilnya sama sekali," ujarnya.
Bahkan kata Manab, beberapa padi milik warga lain ada yang dibakar. "Karena sudah tidak nutut (sebanding) dengan biaya panennya," pungkasnya.
Hal yang sama dirasakan oleh Ketua Kelompok Tani Tirto Indah, Jazuli. Padi miliknya juga terdampak oleh hama tersebut.
Ia menjelaskan, rata-rata petani di Desa Kertonegoro gagal panen. "Ada sekitar 70 persen yang gagal panen, dari luasan 429 hektare keseluruhan di desa ini," jelasnya.
Ia mengaku sudah berupaya mengantisipasi serangan hama wereng dengan melakukan pengobatan, namun tidak mempan. "Misalnya dengan menggunakan obat di toko-toko pertanian, namun tidak ada hasil," terangnya
"Melihat kondisi petani saat ini, saya berharap ada perhatian dari pemerintah agar petani tidak terlalu merugi," tambahnya. (yud/eko/ian)