NGAWI, BANGSAONLINE.com - Keberadaan tempat hiburan malam (THM) identik dengan para pemandu lagu atau kerap disebut Ladies Companion (LC), atau purel. Mereka menjadi salah satu pekerja yang terimbas dari adanya pandemi, yang menyebabkan rumah karaoke di wilayah Ngawi ditutup.
Namun dari ditutupnya THM seperti rumah karaoke, ternyata ada kisah yang mengetuk hati dari beberapa pengalaman hidup para LC. Sebut saja Melati (29). Saat ditemui BANGSAONLINE.com, ia menceritakan kisahnya selama satu tahun belakangan, ketika tempatnya mengais rezeki ditutup.
BACA JUGA:
- The Souls Kembali “Hidup”, Izin Dipertanyakan, Hearing Tak Kunjung Datang
- Hiburan Malam Surabaya Diminta Tutup Lebih Awal, Polrestabes Tak Terima Info dalam Penindakan
- Minta Jaminan Kepastian Usaha, Pengusaha Tempat Hiburan di Pasuruan Audiensi dengan Dewan
- Ini Alasan Tempat Hiburan Malam di Surabaya Boleh Buka hingga Subuh saat Pergantian Tahun 2024
"Kita akhirnya mulai usaha apa saja yang penting dapat uang. Saya bersedia menjadi teman dalam acara minum (pesta miras, red)," jelas wanita yang berstatus janda anak satu tersebut.
Menurutnya, banyak LC-LC lain yang juga akhirnya pindah profesi sementara sebagai pendamping dalam acara pesta miras, yang biasanya digelar para pelanggan karaoke. Terutama LC yang memang hobi minum miras.
Melati mengaku sempat diterima sebagai tenaga kontrak dalam sebuah perusahaan bidang penjualan. Namun karena honor yang diterima jauh dari yang diharapkan, ia akhirnya memutuskan keluar.
Lain lagi dengan yang dialami Mawar. Ia tak menerima tawaran menjadi pendamping pesta miras, karena memang tak hobi minum minuman beralkohol. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Mawar sempat masuk ke dunia bisnis esek-esek.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




