Sabtu, 17 April 2021 19:27

Soal Dugaan Pencemaran Udara, Warga Dusun Ngatup Akan Mengadu ke Bupati Kediri

Senin, 05 April 2021 20:54 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Muji Harjita
Soal Dugaan Pencemaran Udara, Warga Dusun Ngatup Akan Mengadu ke Bupati Kediri
Ketua RT 01 RW 04 Dusun Ngatup saat menunjukkan kepulan asap yang keluar dari cerobong milik pabrik pupuk organik yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Pagu. (foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE)

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Warga RT 01 RW 04 Dusun Ngatup, Desa Kambingan, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri yang terdampak pencemaran lingkungan diduga akibat sisa buangan limbah pabrik pupuk organik, akan mengirim surat aduan kepada Bupati Kediri dan Ketua DPRD Kabupaten Kediri.

Surat aduan ke Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Kediri terpaksa dilakukan karena warga merasa sudah tidak sanggup lagi hidup berdampingan dengan pabrik pupuk yang diduga setiap hari mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat tersebut.

Sigit Djarwanto, Ketua RT 01 RW 04 Dusun Ngatup menjelaskan bahwa pengaduan ke Bupati Kediri dilakukan karena upaya warga untuk menghentikan bau busuk yang diduga berasal dari pabrik pupuk itu tetap tidak berhasil, meski sudah berlangsung lama.

"Dengan ini, kami mengadukan persoalan pencemaran lingkungan/udara yang terjadi di Desa Kambingan, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, khususnya di RT 01 RW 04 Dusun Ngatup kepada Mas Bup Dhito," kata Sigit Djarwanto, Senin (5/4/2021).

BACA JUGA : 

Perampokan Dengan Modus Tusuk Ban di Kediri, Uang Rp. 500 Juta Amblas

Sentot Djamaluddin: PKB Kabupaten Kediri Tetap Setia Bersama Gus Ami

Pemkot Kediri Salurkan Bantuan Paket Sembako Isolasi Mandiri di 8 Kelurahan

Tanggul Sungai Kalasan Jebol, ​Puluhan Hektare Tanaman Padi di Kediri Terancam Gagal Panen

Menurut Sigit, pencemaran lingkungan/udara ini berasal dari sisa buangan limbah pabrik pupuk organik PT KTS di Desa Wonosari, tetangga Desa Kambingan.

"Perlu kami sampaikan bahwa pencemaran lingkungan dengan bau menyengat tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun sejak pabrik pupuk organik tersebut berdiri sekitar tahun 2009-2010 lalu," imbuh Sigit.

Dampak yang dirasakan oleh warga, khususnya warga di RT 01 RW 04, lanjut Sigit, yaitu ada yang dadanya sesak ketika menghirup bau tak sedap meski telah menggunakan masker dan tentunya bisa menyebabkan penyakit ISPA.

"Bila masalah limbah pabrik pupuk organik yang mencemari udara itu tidak bisa diatasi, maka warga menuntut pabrik pupuk tersebut diambil tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku," terang Sigit.

Sejak awal berdiri, masih menurut Sigit, warga sudah komplain dengan keberadaan pabrik pupuk tersebut. Namun nyatanya hingga surat pengaduan ini dibuat, bau menyengat dan polusi udara tetap saja terjadi.

"Terakhir, kami telah mengadukan hal ini kepada Kepala Desa Kambingan, Kamis (1/4/2021) lalu, sekaligus menyerahkan kembali surat undangan pengambilan sembako dari pabrik pupuk organik PT KTS. Kami memang butuh sembako, tapi saat ini kami lebih butuh bisa terbebas dari bau busuk," pungkas Sigit.

Sementara itu, Kepala Desa Kambingan Djarkasi, S.H., membenarkan telah menerima aduan masyarakat tentang bau limbah pupuk yang menyengat tersebut. Bahkan, pihaknya juga sempat mencatat, adanya penolakan warga RT 01 RW 04 terkait pemberian sembako dari pabrik pupuk tersebut kepada mereka.

"Saya menerima laporan warga RT 01 RW 04 ini, dan sudah mencatat bahwa mereka menolak mendapat bantuan sembako dari pabrik pupuk ini, karena merasakan dampak dari bau menyengat limbah pupuk tersebut. Namun, saya dari pemerintah desa hanya memegang amanah, untuk mendata warga penerima sembako," katanya.

Meski ada sejumlah warga RT 01 RW 04 yang menolak pemberian sembako dari pabrik pupuk tersebut, lanjut Djarkasi, pihaknya tetap akan menyalurkan paket sembako itu kepada warga di luar RT 01 RW 04. Sebab, surat undangan penyaluran bantuan sembako itu sudah didistribusikan kepada mereka.

"Saya berharap, keluhan warga ini bisa ditanggapi dengan baik oleh manajemen pabrik pupuk PT KTS. Apalagi, mengingat lokasi pabrik ini di luar wilayah kerja saya, yakni di Desa Wonosari, sedangkan saya diberi amanah untuk memimpin di Desa Kambingan," ujar Djakarsi. (uji/zar)

​Mengenang Masa Lalu, Ngabuburit Sambil Bermain Meriam Bambu
Jumat, 16 April 2021 22:03 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa, atau ngabuburit.Salah satunya seperti yang dilakukan bocah di Kota Pasuruan, Jawa Timur. mereka bermain meriam bambu di tanah lapang.Sepert...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 17 April 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Setelah banyak mendapat dukungan dari para tokoh, dokter, dan bahkan jenderal, tampaknya uji fase II Vaksin Nusantara akan lanjut. Tentu di luar BPOM.Apa itu Ilegal? Nah, silakan ikuti tulisan Dahlan Iskan di Disway d...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 17 April 2021 11:15 WIB
Memasuki Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)...