Kamis, 17 Juni 2021 15:45

Pemerintah Bernyali Besar, Syukur Tak Hanya Berani melawan HTI-FPI, Revolusi Energi (2)

Kamis, 13 Mei 2021 08:15 WIB
Editor: mma
Pemerintah Bernyali Besar, Syukur Tak Hanya Berani melawan HTI-FPI, Revolusi Energi (2)
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Tulisan Dahlan Iskan tentang Revolusi Energi edisi 2 ini menarik dinikmati pada Hari Raya Idul Fitri. Memang tergolong berat dan berbobot. Tapi mudah dicerna. Apalagi ditulis secara "sederhana" dalam bentuk pointer-pointer sehingga tak membosankan.

Tapi benarkah pemerintah sekarang punya nyali besar? Nah, silakan simak tulisan wartawan kondang itu BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca:      

Asumsi besar saya adalah:

1. Minyak mentah tidak penting lagi. Gas bumi memang masih penting tapi tidak sepenting dulu lagi. (Ditjen Migas mungkin sudah waktunya dihapus –atau hanya jadi direktorat. Satu-satunya yang masih membuat Ditjen itu dipertahankan adalah: masih banyak Ditjen lain yang mestinya lebih dulu tidak ada).

BACA JUGA : 

Sudah Divaksin, 9 Anggota DPRD Surabaya Tertular Covid-19

Sikap Tionghoa Masa Peralihan: Pro Belanda, Netral, dan Pro Kemerdekaan

Tanpa Perang Pertumpahan Darah, Mochtar Kusumaatmadja Membuat Luas Indonesia Dua Kali Lipat

Produksi Mobil Listrik, Toyota dan VW Bakal Nyalip, Bagaimana Perusahaan Baterai Indonesia

2. Kita tidak bisa bersandar ke gas bumi. Sumur gas lama sudah waktunya menipis dan habis. Juga sudah terikat kontrak lama. Sumur yang baru yang besar tidak bisa diharap. Proyek Masela yang sudah hampir mulai diubah di awal periode pertama Presiden Jokowi –dan sampai sekarang belum terlihat akan dimulai. Sumur Natuna kian jauh dari mata. Letaknya di laut dalam. Kandungan sulfurnya terlalu tinggi.

3. Batubara akan kian dikecam di seluruh dunia. Kebutuhan batubara tetap tinggi tapi tidak akan naik lagi. Batubara akan terus dipersoalkan sebagai energi kotor.

4. Pabrik boiler dan turbin akan banyak ditutup. Terutama untuk ukuran 300 MW ke bawah. (Yang ukuran 600 MW dan 1.000 MW mungkin ada yang bertahan. Khususnya untuk pembangkit tenaga nuklir. Yang ukurannya selalu besar. Indonesia perlu mengamankan kebutuhan boiler dan turbin kecil. Terutama untuk pengganti yang ada dan perawatannya).

5. Pembangkit tenaga surya (dan tenaga angin) akan menemukan puncak kejayaannya. Belum dalam jangka pendek. Itu akan terjadi bersamaan dengan ditemukannya teknologi baterai yang baru. Mungkin 5 tahun lagi. (Ketika itu harga baterai tinggal sepertiga harga sekarang. Kekuatannya, paling tidak, tiga kali lipat dari yang terbaik saat ini).

6. Pembangkit tenaga air mengalami kesulitan. Itu akibat berubahnya lingkungan. Sungai dan waduk semakin dangkal. (Sistem pump storage tidak relevan lagi –tergantikan oleh zaman baru baterai. Mikro hydro menjadi terlalu mahal).

7. Indonesia tetap jadi lumbung energi. Hanya pindah dari Migas ke batubara. Lalu pindah lagi ke surya. (''Rendemen'' tenaga surya di wilayah timur jauh lebih tinggi dari wilayah barat).

8. Indonesia tiga kali menjadi lumbung energi: migas, batubara, surya. Hanya saja, ternyata, status lumbung energi tidak otomatis menjadi sumber kemakmuran negeri. Sudah terbukti. Era Migas di masa lalu tidak membuat Indonesia makmur. Demikian juga era batubara sekarang.

(Kaltim sebagai lumbung energi utama pernah krisis listrik. Berkepanjangan. Itu karena tidak punya pembangkit listrik. Dan tidak ada rencana membangunnya. Saya pernah ingin mengajak rakyat Kaltim untuk merdeka –istri saya dari Kaltim. Akhirnya saya melakukan pemberontakan yang lain di sana: membangun PLTU tanpa ada izin –Saking sulitnya mengurus izin saat itu. Akibatnya, saya berdarah-darah. Itu karena tidak bisa mendapat kredit bank tanpa ada izin).

9. Ekonomi dan daya saing ekonomi negara, tidak akan pernah baik. Itu kalau tidak punya kebijakan energi yang konkret dan murah.

10. Batubara adalah hasil bumi asli Indonesia. Yang diberikan Tuhan begitu saja. Itu sudah harus untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat –bukan kemakmuran segelintir orang saja. Toh mereka sudah berhasil makmur dari batubara selama 20 tahun terakhir.

11. Indonesia masih punya waktu untuk memanfaatkan status sebagai lumbung energi –meski waktu tersebut semakin terbatas.

12. Pemerintah Indonesia sekarang ini punya nyali yang sangat besar. Pemerintah berani melawan apa pun –syukur-syukur tidak hanya berani melawan HTI, FPI, dan yang satu itu. Pemerintahan ini tentu juga berani melawan dirinya sendiri. Yakni keberanian melakukan revolusi energi untuk kemajuan negara.

Berdasar 12 asumsi besar itulah saya menulis ini: perlunya revolusi energi untuk kemakmuran negeri.

Dalam doktrin lama jurnalisme tulisan di hari Lebaran harus yang ringan. Yang santai. Tentang pakaian atau makanan.

Itu kalau Lebarannya normal. Maafkan, saya menyajikan tulisan berat ini di Lebaran yang tidak normal.

Inti usulan: lihat edisi besok.

Taqabbalallahu Minna Waminkum. (*)

Soal Anggaran Menhan untuk Alutsista Rp 1.700 Triliun, Ini Komentar Kiai Asep
Kamis, 17 Juni 2021 00:22 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Heboh anggaran untuk membeli Alutsista sebesar Rp 1.700 Triliun membuat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terus mendapat sorotan publik. Padahal, menurut Prabowo, master plan atau grand design itu permintaan ...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Kamis, 17 Juni 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Di Indonesia, terutama di Bangkalan dan Kudus, Covid-19 mengganas. Ratusan orang meninggal dunia.Tapi di belahan dunia lain Covid-19 justru lenyap. Inilah yang terjadi di California. Warganya pun berpesta. Pesta merd...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...