Kegiatan Sedekah Centelan di RW 4 Desa Lebo.
Tidak hanya membantu warga yang terdampak Covid-19, komunitas pejuang sedekah centelan ini juga memberdayakan ibu-ibu berstatus janda. Mereka diperbantukan memasak nasi bungkus yang hendak dibagikan, lalu diberi upah yang didapat dari pemberian donatur.

(Tampak bantuan sembako dari donatur yang digantungkan di tembok. Warga yang membutuhkan tinggal mengambilnya secara gratis sesuai kebutuhan)
Menurut Wina, donasi sekecil apapun sangat membantu Tim Pejuang Sedekah Centelan. “Ada yang menitipkan ke kita Rp. 50.000,- ada yang gula 2 kg kemudian nasi 3 bungkus, nah itu kalau dikumpulin kan jadi banyak,” ujarnya seraya mengatakan sedekah centelan ini tidak hanya berupa makanan. Namun juga bisa berupa sembako seperti, beras, sayuran, hingga sabun dan baju layak pakai.
Bahkan, masih kata Wina, kegiatan sosial ini telah menginspirasi warga desa lainnya untuk membentuk gerakan serupa. Banyak warga yang antusias untuk mengadakan sedekah centelan di desanya masing-masing.
“Setelah saya bikin di Lebo ada masyarakat lain dari luar Lebo yang ingin ikut, tapi kejauhan. Akhirnya kita bentuk juga di desa mereka. Kita bikin di Desa Urangagung, Bangar, Nggrinting, Kludan dan yang baru di Desa Sugihwaras,” ucap pengurus PAUD Sosial Desa Lebo tersebut.
Ke depan, Wina dan anggota komunitas sedekah centelan berharap gerakan ini meluas ke desa-desa lainnya. Sebab, masyarakat tidak bisa mengandalkan bantuan dari pemerintah yang terkadang tidak tepat sasaran.
"Kita tidak boleh bergantung pada bantuan pemerintah, karena terkadang justru yang mendapat bantuan aadalah masyarakat menengah ke atas dan masyarakat menengah ke bawah tidak terdaftar dalam bantuan tersebut. Oleh karena itu kita harus bisa peka terhadap sekitar, memberikan dan membantu apa yang bisa kita bantu," pungkasnya.
Penulis: Arni Zuha Syahbaniyah - Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




