Tafsir Al-Kahfi 71-73: Tes Pertama, Perahu Dirusak

Tafsir Al-Kahfi 71-73: Tes Pertama, Perahu Dirusak foto: Cahaya Islam

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

71. Fanthalaqaa hattaa idzaa rakibaa fii alssafiinati kharaqahaa qaala akharaqtahaa litughriqa ahlahaa laqad ji'ta syay-an imraan.

Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.

72. Qaala alam aqul innaka lan tastathii’a ma’iya shabraan.

Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

73. Qaala laa tu-aakhidznii bimaa nasiitu walaa turhiqnii min amrii ‘usraan.

Dia (Musa) berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

TAFSIR AKTUAL

Musa diterima sebagai murid Khidir dengan syarat lulus tes masuk. Materinya bukan keilmuan, tapi kesabaran. Sudah diberitahu agar diam saja dan tidak cerewet. Jika saat tes berlangsung kok Musa ngomong, menyanggah, bertanya atau usul, maka buyar dan dinyatakan tidak lulus. Dil-dilan antar keduanya disepakati. Dan tes pertama dimulai.

Khidir mengajak Musa berjalan-jalan ke luar pulau, entah apa nama pulau yang dituju itu. Di tepi laut bersandar beberapa perahu yang memang sebagai alat transportasi komersial. Khidir mendekati pemilik sebuah perahu dan minta tolong diantar ke pulau seberang, gratis tanpa ongkos. Dengan senang hati pemilik perahu itu menerima.

Khidir, Musa, Yusa’ ibn Nun dan beberapa awak perahu segera naik. Melajulah perahu itu dengan lancar dan nyaman. Tiba-tiba Khidir menuju ke bagian bawah dan merusak, menjebol sebuah papan perahu tersebut. Musa yang menyaksikan hal berbahaya itu spontan marah dan membentak: ”akharaqtaha litughriq ahlaha, laqad ji’t syai’a imra”. ”Brengsek kau. Tega-teganya kamu mau menenggelamkan pemiliknya. Sudah numpang gratis, tidak bayar, malah merusak dan mencelakakan”.

Ditohok begitu, Khidir hanya senyum dan berkata: ”gimana, nggak sabar to? Kan sudah saya bilang sebelumnya, kamu tidak akan bisa berlaku sabar bersama kami”. ”Alam aqul innak lan tastathi’ ma’I shabra”. Musa segera sadar akan janji yang diikrarkan sebelumnya, bahwa dirinya pasti bisa.

Diriwayatkan, bahwa ketika Khidir turun ke lantai dasar perahu tersebut, kemudian menjebol papan hanya Musa saja yang melihat. Lainnya tidak. Hal demikian berdasar bahwa tidak ada keributan pada awak perahu yang lain, termasuk santri pengawalnya, Yusa’ ibn Nun. Andai mereka melihat, maka pasti pada ribut memaki-maki Khidir.

Simak berita selengkapnya ...