KH Miftahul Akhyar saat menyampaikan khutbah iftitah pada pembukaan Muktamar ke-34 NU yang dibuka Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren Darussa'adah, Lampung Tengah, Rabu (22/2/2021). Foto: YouTube
BANDAR LAMPUNG, BANGSAONLINE.com – Dr KH Fadlolan Musyaffa’, LC, MA, pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Mijen, Semarang, menilai ada yang unik pada Muktamar ke-34 NU yang dibuka Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren Darussya’adah, Lampung Tengah, Rabu (22/12/2021).
“Khutbah Iftitah Rais Aam Syuriah dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung, tedapat bid'ah mukhalif dari tradisi muassis Jamiyah Nahdlatul Ulama, yang juga menjadi tradisi setiap Rais Syuriah di semua lapisan dari PBNU sampai Ranting,” kata Kiai Fadlolan Musyaffa’ dalam rilisnya kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (23/12/2021).
BACA JUGA:
- Kiai Asep dan Kebutuhan Eksistensial NU Masa Depan
- Bahaya, Jika Ada Dua Muktamar, Prof Kiai Imam: Apa Kiai Miftah dan Gus Yahya Masih Layak Mimpin NU
- Rais Aam Minta Gus Yahya Tak Tersinggung, PBNU Masih Dipegang Pj Ketum Kiai Zulfa Mustofa
- Cari Solusi, Mustasyar PBNU Bakal Silaturahim dengan Rais Aam di Pesantren Tebuireng Sabtu
Bid’ah?
“Bid'ah yang dimaksud adalah beda dari istilah khutbah iftitah yang lazimnya berbahasa Arab, diganti dengan bahasa Indonesia dan Inggris,” kata alumnus Universitas Al-Azhar Mesir yang juga Sekretaris MUI Jawa Tengah itu.
Menurut dia, bila khutbah iftitah menggunakan bahasa Indonesia, maka namanya sambutan pembukaan. Bila menggunakan bahasa Inggris namanya opening seremonial.
“Momentum muktamar adalah tampilnya seorang Rais Aam Syuriah menampakkan kealiman, kefaqihan, dan kemahiran dalam berbahasa arab. Tapi kali ini sungguh beda dari sejarah setiap Rais 'Am sebelumnya,” tegas Kiai Fadlolan Musyaffa.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




