Siswa Kelas 2 SD di Sidoarjo Meninggal Setelah Divaksin, Dirut RSUD Sebut Karena DBD

Siswa Kelas 2 SD di Sidoarjo Meninggal Setelah Divaksin, Dirut RSUD Sebut Karena DBD Makam RF di TPU desa setempat.

Menurut Wanto, seharusnya pihak yang akan melaksanakan vaksin terlebih dahulu memeriksa kondisi penerima vaksin.

"Saat di puskesmas itu, anak saya cuma diperiksa tekanan darah dan ditanyai sakit atau tidak, gitu aja," ungkapnya.

Empat hari setelah divaksin, RF mulai mengalami gejala demam. Wanto sempat mengira bahwa anaknya hanya kelelahan. Namun, pada Minggu (6/1) siang, darah mulai keluar dari hidung anaknya. Ia pun membawanya ke RSUD Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

"Sebelum dibawa ke rumah sakit, anak saya sempat mengeluarkan darah dari hidung. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD, anak saya meninggal dan didiagnosa kena DBD," ungkap Wanto.

Sementara itu, Dirut RSUD Sidoarjo, dr Atok Irawan membenarkan bahwa pasien atas nama RF menjalani perawatan mulai Minggu (6/1) malam di RSUD Sidoarjo. Almarhum didiagnosa Dengue Shock Syndrome (DSS), komplikasi infeksi demam berdarah dengue (DBD) yang memiliki tingkat kematian yang tinggi.

"Almarhum datang dengan kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS) tidak ada hubungannya dengan vaksin," pungkasnya. (cat/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO