“Di SD Pembangunan Jaya 2 melalui pembelajaran tematik telah diperkenalkan tentang pentingnya bagaimana cara menjaga kesehatan pribadi. Webinar ini bisa menjadi wadah untuk kita semua belajar bagaimana mengedukasi terkait dengan kesehatan reproduksi untuk anak yang penting dikenalkan sejak dini,“ tambahnya lebih lanjut.
Acara ini mengundang pemateri Anastasia Satriyo, psikolog anak. Ia menjelaskan pentingnya bagi orang tua untuk menyiapkan psikologi dalam mengontrol diri sendiri sebelum menangani anak, karena otak anak menyerap energi dari orang tua.
Kecanggungan dalam mendiskusikan pendidikan seks kepada anak terjadi karena memang tidak terbiasa membicarakannya.
“Jadi sekarang perlu membiasakan diri membicarakan pendidikan seks. Saat ini memang lebih mudah membicarakan hidung dan telinga dibanding membicarakan penis dan vagina,” ujar Anastasia.
Namun, seksualitas mulai perlu diajarkan sebagai bentuk pengenalan diri anak, bukan hanya urusan penestrasi alat kelamin.
"Mengajarkan perilaku seksual yang bertanggung jawab, merupakan alasan kenapa pendidikan seks harus diberikan oleh orang tua. Posisi orang tua yang memberikan rasa aman dan dipercaya bisa mempermudah anak berbagi pengalaman dan permasalahan," paparnya.
Anastasia menjelaskan lebih lanjut, bahwa pendidikan seks pada anak usia dini yang dilakukan lewat obrolan, cerita, dan diskusi dua arah mempunyai manfaat membuka jalan untuk diskusi mengenai seksualitas di fase kehidupan anak selanjutnya.
"Yang terpenting bahwa pendidikan seksualitas membantu mencegah anak mengalami kekerasan dan pelecehan seksual karena anak memiliki pengetahuan yang benar dan konsep yang tepat dan sehat," tuturnya.
Webinar ini berlangsung selama tiga jam diikuti oleh 90 wali murid dari berbagai daerah di Indonesia.(cat)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




