Komunitas Banyu bening saat melakukan sosialisasi pemanfaatan air hujan di kabupaten Pamekasan, Senin (31/10/2022).
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Ketua Sekolah Air Hujan di Komunitas Banyu Bening dari Sleman Yogyakarta, Sri Wahyuningsih, menggelar sosialisasi pemanfaatan air hujan untuk kehidupan kepada siswa MAN 2 Pamekasan dan relawan yang berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Senin (31/10/2022).
Sebelumnya, dua personil BPBD dan dua orang dari FRPB Pamekasan sudah belajar di sekolah air hujan di Komunitas Banyu Bening. Namun, BPBD Pamekasan, secara langsung mendatangkan ketua komunitas ke bumi gerbang salam untuk melakukan sosialisasi tersebut.
BACA JUGA:
- YBM PLN Madura Tebar 230 Paket Daging Kurban untuk Warga Dhuafa Pamekasan
- Dihadiri Mendikdasmen, Puluhan Siswa Pingsan Saat Senam Anak Indonesia Sehat di Pamekasan
- Dugaan Penipuan Umrah di Pamekasan Memanas, Korban Kini Digugat Balik Agensi
- Bupati Pamekasan Tiga Kali Tinjau SGMRP Demi Sukseskan Puncak Hardiknas Jatim 2026
Sri Wahyuni, yang akrab disapa Bu Ning tersebut menjelaskan, manfaat dari air hujan sangatlah banyak, memang ada jurnal yang rilis terkait dengan tidak boleh mengkonsumsi air hujan, karena 70 persen terkontaminasi dengan tinja.
"Yang pertama dari UNICEF, bagaimana jurnalnya menyampaikan air kita ini 70 persen terkontaminasi tinja, sebelum itu, ada muncul lagi suatu statement, dimana air hujan di seluruh dunia ini tidak layak untuk di minum," jelasnya.
Ia mengatakan, inilah salah satu peran kami dari sekolah air hujan bagaimana cara menampung air hujan yang baik karena kondisi kita yang seperti ini.
"Karena masyarakat ini melihat data tersebut yang menjelaskan air hujan kita tidak layak, kalau di pikir secara mendalam ini aneh, karena air di seluruh dunia ini berasal dari air hujan artinya apa ketika air hujan tidak layak maka air di seluruh dunia ini tidak layak," tuturnya.
Menurutnya, secara fakta, hal ini sangat bertentangan dari rilis jurnal yang menjelaskan air hujan tidak layak untuk dikonsumsi, namun ini menjadikan sebuah tantangan, bagaimana kita bisa menunjukkan data-data tersebut, tidak seperti itu kebenarannya.
"Makanya saya minta kepada adik-adik untuk melakukan riset kecil-kecilan, yang nantinya menjadi big data untuk Pamekasan khususnya, oh ternyata informasi ini tidak tepat," ucapnya.
Bu Ning juga memberikan tips sangat sederhana, yang dapat digunakan untuk mengelola air hujan.
Ia menyarankan agar memanfaatkan air hujan dengan intensitas tinggi alias deras apalagi disertai petir. Namun, sebaiknya bukan saat hujan pertama.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




