Seorang anak-anak di Probolinggo saat melakukan Ter Ater Tajin Sorah atau istilah dalam Bahasa Madura. Foto: SUGIANTO/BANGSAONLINE
KOTA PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com - Ter Ater Tajin Sorah (istilah dalam Bahasa Madura) masih menjadi tradisi bagi masyarakat di Kota Probolinggo. Kebiasaan yang dilakukan pada setiap bulan Asyuro atau tepatnya Bulan Muharram sejak tanggal 1 hingga 30.
"Ini tradisi yang sudah turun temurun," ujar salah satu warga Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Bambang Hartono, saat dikonfirmasi, Kamis (20/7/2023).
BACA JUGA:
- Truk Diduga Rem Blong Hantam Antrean di Perlintasan KA Probolinggo, Sekeluarga asal Blitar Tewas
- Polisi Gagalkan Pencurian Sapi di Probolinggo
- SAPA BOS 2026 Diluncurkan, Pemkot Probolinggo Perketat Transparansi Dana Sekolah
- Resahkan Warga, Puluhan Motor Balap Liar di Probolinggo Diangkut Polisi Saat Operasi Subuh
Dia menjelaskan, tradisi ini sudah dilakukan puluhan tahun oleh masyarakat. Bahkan tradisi ini tidak bisa dihilangkan.
"Tapi ada sebagian warga di Kota yang sudah tidak melakukan tradisi ini," ujarnya.
Menurut dia, adat tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Diyakini pada bulan Suro ini banyak warga yang melakukan tirakat, bahkan juga banyak pelaku spiritual yang melakukan jamas gaman (memandikan pusaka).
Hal senada juga dikatakan Kacong, warga Kelurahan Kebonsari Wetan Kecamatan Kanigaran. Menurut ia, di Bulan Muharram atau lebih dikenal Bulan Suro ini masyarakat tak hanya menjalani tradisi ater ater tajin, melainkan juga menjalani puasa Sunah.
"Di bulan Suro ini juga banyak yang melakukan puasa sunah," tuturnya. (ugi/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






