Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar. Foto: BANGSAONLINE
Mahfud MD dan Cak Imin selama ini sudah tak diragukan komitmennya terhadap NU. Apalagi Mahfud MD memang lahir dari keluarga fanatik NU. Haji Mahmoodin, ayahanda Mahfud MD, pernah ditahan rezim orde baru karena membela Partai NU pada pemilu 1971. Padahal ia PNS atau ASN yang saat itu harus menyoblos Golkar.
Bahkan Mahfud MD juga tercatat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana NU.
Begitu juga Cak Imin. Ia lahir dari keluarga Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang. Dari jalur ibunya ia masih kerabat dekat atau cucu KH Bisri Syansuri, Rais ‘Aam Syuriah PBNU periode 1972-1980.
Karena itu para pendukung Mahfud MD dan Cak Imin seharusnya akur dan tak saling serang. Karena dalam konteks dua pasang capres-cawapres itu bisa dikategorikan All NU Final. Artinya, siapa pun yang menang di antara dua capres-cawapres itu pemenangnya adalah NU.
Tentu pemikiran dan perspektif ini hanya berlaku dan relevan bagi mereka yang berpikir untuk kemaslahatan NU, bukan kepentingan pribadi dan kelompok. Tapi untuk apa punya jabatan tinggi jika bukan untuk kemasalahatan umat (dalam hal ini NU).
Bukankah Gus Dur sering menyitir kaidah fiqh Tasyarraful imam 'alarra'iyah manutun bilmaslahah. Artinya, tindakan seorang pemimpin pada rakyatnya harus didasarkan atas pertimbangan kemaslahatan. Bukan pribadi atau kelompok.
Wallahua'lam bisshawab
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




