DIRAWAT - Korban longsor Air terjun Sedudo saat dirawat di RSUD Nganjuk, kemarin. foto: soewandito/BANGSAONLINE
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Peristiwa longsornya tebing Air Terjun Sedudo, Kabupaten Nganjuk, Selasa (22/7) lalu, membuat para korban dan wisatawan yang berada di lokasi saat kejadian trauma. Mereka mengaku, takut datang kembali ke objek wisata andalan Kabupaten Nganjuk itu.
Samsul Huda (30) salah seorang korban luka ringan mengaku, tidak menyangka bakal tertimpa longsoran batu dan kayu saat berwisata di Air Terjun Sedudo. Ia dan teman-temannya merasa trauma."Cuaca sangat cerah sekali dan tidak ada hujan. Tetapi, tiba-tiba terjadi longsor. Sungguh kami tidak menyangka sama sekali. Kami begitu terkejut hingga histeris," kata Samsul Huda, Rabu (22/7).
Hingga kini, ada tiga orang tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat musibah itu. Mereka, Subkhan Anang Mashuro (35) warga Jalan Joporo 10 No. 36 Surabaya, Sofyan Sahuri (26) warga Jalan Kapas Jaya Surabaya dan Hendra Pramono Setyawan (12) warga Jalan Diponegoro II Karangwaru Tulungagung.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk, Supiyanto mengatakan kejadian itu musibah dan tidak ada unsur kesengajaan. Dengan adanya musibah ini, wisata Sedudo tetap dibuka untuk umum namun dilarang mandi di air terjun. "Kami sudah koordinasi dengan pihak Perhutani dan Polres Nganjuk untuk menyelidiki jatuhnya ranting itu," jelasnya, Selasa (22/7).
BACA JUGA:
- HUT ke-1089 Nganjuk, Bupati Tekankan Sejarah Manusuk Sima dan Ajak Warga Bersinergi
- Bupati Kediri, Jombang dan Nganjuk Rembug Pembangunan Flyover Mengkreng
- Pasar Murah di Nganjuk Diserbu Warga, Gubernur Khofifah: Kendalikan Inflasi, Stabilkan Harga Bapok
- Kejati Jatim Bekali Ribuan Santri Ponpes Al Ubaidah Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Beragama
Menanggapi kejadian ini, Sekretaris Komisi D DPRD Nganjuk, Sunaryo meminta kepada Dinas Pariwisata untuk segera melakukan apa yang menjadi kewajibannya, memberikan kemudahan bagi keluarga korban untuk mengurus asuransi. "Di karcis tanda masuk sudah disertakan asuransi, dan itu hak bagi para pengunjung sedudo yang membeli tiket” pintanya.
Sementara, Subkhan Anang Mashuro (35) telah berpulang setelah menjadi korban longsor air terjun Sedudo, Nganjuk. Dia meninggalkan seorang istri, Anita Dwi Mardikawati (29) dan anak yang masih balita, Arifa Anggita Valensia (2).
Anita mengaku tidak ada firasat khusus sebelum kepergian suaminya yang bekerja sebagai pegawai outsourcing Dinas Pendidikan Surabaya itu. Hanya saja selama bulan puasa kemarin, suaminya lebih banyak diam. "Biasanya sih ramai tapi puasa kemarin kok lebih banyak diam," ujar Anita kepada wartawan di rumah duka di Jalan Jepara X/15, Rabu (22/7).
Anita menambahkan, suaminya juga tidak berpesan khusus. Namun yang sering diutarakan suaminya adalah agar menjaga anaknya baik-baik. "Suami sering berpesan agar anak dijaga baik-baik, jangan sering dimarahi," tandas Anita.
Selain Subkhan Anang Mashuro, satu warga Surabaya yang turut menjadi korban longsor air terjun Sedudo adalah Sofwan Sauri. Jenazah Sofyan sudah dimakamkan setelah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Kapas Jaya 80. (dit/rvl)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




