Khofifah Indar Parawansa dan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim serta para syaikh dari Al Azhar Mesir dan Baghdad Irak foto bersama dalam acara International Conference on Research and Community Service (ICORCS) di Islamic Center Surabaya, Rabu (29/1/2025). Acara ICORCS itu digelar UAC selama dua hari, Rabu dan Kamis (29 - 30 Januari 2025). Foto: bangsaonline
“Tidak diragukan lagi apabila tarbiyah dibarengi manhaj dan metode yang betul dan didukung pemerintah maka itu menjadi suatu yang diridhoi Allah karena akan bisa merubuah pandangan masyarakat dari yang maksiat menjadi makruf,” tegas Prof Dr Yusri Rusydi.
“Jikalau di Jatim ada akhlaq yang menyeleweng, tapi dengan usaha pemerintah dan ulama khususnya Kiai Asep dan Ibu Khofifah, terima kasih, bisa merubah akhlaq dari masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Karena, menurutnya, peran umara dan ulama adalah satu kesatuan yang tak bisa lepas dari umat dan masyarakat. Kedua elemen ini menjadi kunci yang bisa membuka rahmat Allah dan menentukan arah jalan dari masyarakat dalam satu peradaban.
“Pemerintahan jika disertai azam, taufiq dan didukung ulama akan menumbuhkan peradaban yang tinggi akhlaq dan ilmunya sehingga menghasilkan menghormati madzab, suluq dan tasawuf yang mengantarkan kita untuk semakin cinta pada Rasulullah dan Allah. Serta senantiasa mengajak kita untuk selalu terikat pada baginda Rasulullah dan Allah SWT,” ujarnya.
Senada, Prof. Dr. Muhammad Abdol Samad Al-Mehanna juga menyampaikan bahwa politik dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan
“Kalau kita merujuk karya seorang pemikir prancis , beliau menggambarkan kekuasaan yang bersifat spiritual dan kekuasaan yang temporal. Intinya apa yang sering didiskusikan anatara agama dan politik sesungguhnya tidak ada pertentangan keduanya. Sebagaimana lahir dan batin,” ujar Prof Dr Mehanna.
“Andaikan ada orang yang meyakini bahwa terjadi perbedaan dua hal ini, agama dan politik, maka sesungguhnya keyakinan ini munculnya dari orang yang bodoh,” imbuhnya.
Sebab, tegas Syaikh Mehanna, ulama dunia juga telah menjelaskan bahwa sebuah masyarakat yang ada adalah akumulasi dari individu-individu.
Jikalau individunya baik maka akan tercipta keluarga yang baik.
“Jika masyarakatnya baik maka akan terbentuk suatu umat yang berkualitas. Dan jika umat ini berkualitas maka umat ini akan bisa mengubah tatanan global,” ujarnya.
Prof Dr Mehanna juga menekankan terkait tema konferensi ini yang mengulas soal masyarakat yang ideal. Ia menjelaskan penting adanya orientasi untuk melahirkan sistem masyarakat yang mengedepankan keagamaan berketuhanan.
“Bahwa kamu boleh bermadzhad syafii, Hanbali, ataupun Maliki tapi kamu harus mengedepankan akhlaq seperti Nabi Muhammad. Kamu juga boleh memakai sorban gamis celana ataupun jas akan tetapi kamu harus mampu meneladani akhlaq Nabi Muhammad,” tegasnya.
“Juga kamu boleh beda berprofesi baik jadi petani dokter, aparatur pemerintah atau polisi dan dokter tapi sekali lagi jadilah orang yang punya akhlaq seperti Rasulullah,” pungkasnya.
Syaikh banyak berpesan tentang pentingnya menjaga perdamaian. Bahwa berkorban untuk orang lain sangat diutamakan demi mewujudkan damai dan menyatukan perbedaan. (dev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




