Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.
Padahal itu sangat manusiawi. Fiqih kita justru mengajarkan, boleh shalat dengan duduk ketika tidak mampu dengan berdiri. Kita? Mampu berdiri saja kadang lalai shalat.
Kedua, bahwa malaikat aktif berkunjung kepada Nabi Ayub A.S.. Hal itu sebagai tugas mendampingi seorang utusan dalam menjalankan misi keagamaan. Suatu ketika, malaikat tidak kunjung datang kepadanya selama empat puluh hari.
Hal demikian sungguh membuat Nabi Ayub A.S sangat menderita dan membatin, jangan-jangan ini pertanda murka Tuhan, lalu berucap seperti itu. Begitu pendapat al-imam Ja’far ibn Muhammad.
Di sini, kata "al-dlurr" dipahami sebagai kesediaan batin, kesedian yang bersifat sufistik nan ilahiah. Lalu bagaimana dengan kita yang lama tidak dikunjungi bacaan Alqur’an, istighfar, bershalawat, berdzikir, dan seterusnya?
Ketiga, ucapan tersebut sebagai 'reflek' Nabi Ayub A.S., di mana lisannya selalu basah dan mengalir dzikir kepada Allah SWT.
Dalam keadaan apapun, selalu ingat kepada-Nya. Apalagi tersentuh rasa sakit, apalagi saat ada insiden dan mendadak, maka asma Tuhan otomatis terungkapkan sebagai reaksi yang reflek tak terpikirkan. Spontan muncul begitu saja.
Untuk itu, kaum sufis punya ugeran sederhana untuk mengetahui apakah hati seorang muslim senantiasa delak dan dekat dengan Tuhannya. Hal itu bisa dibaca saat dia terbentur insiden mendadak. Apa yang reflek keluar dari mulutnya pertama kali, maka itulah cerminan hati nuraninya. Misalnya dia terbentur, keseleo, atau terpeleset, dan seterusnya.
Pertama, jika dia spontan berucap kalimah tayibah, misalnya: Allah, astaghfirullah, inna lillah, dan sebangsanya, maka terbaca bahwa hati dia penuh Allah atau Allah banyak singgah di hatinya. Allah lebih mendominasi di dalam jiwa melebihi insidennya. Maka derajat dia sudah melampaui derajat manusia biasa.
Kedua, jika dia spontan berucap kalimah manusiawi, seperti aduh, wow, dan sebangsanya, maka dia masih dalam derajat manusia biasa dan Allah belum banyak singgah dalam jiwanya.
Ada seorang sahabat dalam sebuah pertempuran dan sebuah anak panah nyasar sedikit mengenai lengannya dan tidak apa-apa, meski itu mengagetkan. Lalu sahabat itu reflek berteriak "waduh". Rasulullah SAW yang ada di samping mendengar, lalu berkomentar: Jika anda berucap "Allah", maka malaikat surga mencatat anda terdaftar di sana. Atau semakna dengan itu.
Ketiga, jika dia langsung misuh, maka itulah refleksi dari keimanan dia. Na’udz billah min dzalik. Sebangsa dengan kata misuh itu adalah kata-kata biasa, tapi berkonotasikan buruk, seperti: eh jaran, goblok, kirik, dll.
Lalu, model doa seperti apa yang mesti kita tiru?
Jawabnya, tidak ada ketentuan, semua diserahkan kepada selera masing-masing, mau jelas atau sindir, dan semua ada dalilnya. Tetapti, pada umumnya, doa model lembut, memelas, dan merendah begini ini volume terkabulnya luar biasa, melampaui apa yang diharap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




