Ilustrasi. Foto: MCH Kemenag
Di sisi lain, kata Mustolih, pengaturan tersebut bisa menjadi panduan persaingan yang sehat dan wajar antar travel. Termasuk mempersempit ruang gerak travel-travel ilegal yang selama ini ikut bermain.
Sebab sudah bukan rahasia lagi, ajakan dan iklan yang bertebaran terkait haji furoda begitu sangat manis dan menjanjikan, cukup hanya mendaftar langsung bisa berangkat haji pada tahun tersebut.
"Haji Furoda ini tanpa perlu antri bertahun-tahun sebagaimana haji reguler dan haji khusus dengan bandrol harga selangit, dari ratusan juta hingga miliaran rupiah per jemaah," katanya.
Sayangnya, menurutnya, janji tersebut acapkali tidak dibarengi dengan informasi yang detil, transparan dan potensi terjadi gagal berangkat yang juga terbuka lebar. Karena sangat tergantung pada dinamika kebijakan Arab Saudi yang cepat berubah.
"Kegagalan berangkat tahun ini tentu membuat calon jemaah sangat kecewa," ujarnya.
Namun, menurutnya, akan lebih baik jika diselesaikan secara musyawarah untuk mencapai solusi bersama (win win solution). Dengan pihak travel bisa dengan skema pengembalian biaya (refud), penjadwalan ulang (reschedule) atau jemaah didaftarkan sebagai haji khusus.
Apalagi, beberapa informasi yang beredar, ada beberapa travel resmi yang bersedia mengembalikan biaya seratus persen kepada para jemaah demi menjaga reputasi dan nama baik di tanah air dan di Arab Saudi.
"Itu dilakukan meski mereka juga mengalami kerugian yang tidak sedikit," kata Mustolih. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




