DNV Southeast Asia for Maritime’s Business Development Capt Gustad Hormazdi (kanan) saat kuliah tamu di ITS tentang dekarbonisasi, digitalisasi, dan transisi energi dalam industri maritim. (Ist)
“Serta menyongsong kontribusi yang lebih luas dari ITS dan alumninya di dunia maritim global,” imbuh Nurul.
Sementara itu, DNV Regional Manager Asia Pacific Energy System Brice Le Gallo menekankan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan industri menjadi komponen vital. Melalui kerja sama ini dapat terbentuk ekosistem pendidikan yang kuat untuk membangun industri.
“Kedua belah pihak bersama membangun jembatan kolaborasi untuk terus berkembang,” tuturnya.
DNV sebagai salah satu biro klasifikasi terbesar dunia mampu menyediakan kebutuhan akan pengalaman kerja yang nyata untuk mempersiapkan mahasiswa ITS menghadapi dunia industri.
Di sisi lain, Brice menekankan bahwa industri maritim, tidak terkecuali DNV, juga membutuhkan perguruan tinggi untuk menyediakan inovasi dan SDM yang kuat.
Lebih lanjut, Brice menjabarkan pentingnya partisipasi mahasiswa ITS dalam tercapainya manfaat kerja sama ini untuk kemajuan industri. Maka dari itu, mahasiswa ITS harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
“Kolaborasi ini dilakukan untuk kepentingan mahasiswa dan dalam menjalankannya juga bersama mahasiswa,” tegasnya.
Sebagai bukti nyata transfer pengetahuan yang menjadi komitmen kedua belah pihak, turut dilaksanakan kuliah tamu yang menghadirkan DNV Southeast Asia for Maritime’s Business Development Capt Gustad Hormazdi. Dalam pemaparannya, Gustad menjelaskan pentingnya proses dekarbonisasi, digitalisasi, dan transisi energi dalam industri maritim. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




