DPRD Gresik Cecar Manajemen PT Linde Indonesia Soal Kebocoran Hingga CSR

DPRD Gresik Cecar Manajemen PT Linde Indonesia Soal Kebocoran Hingga CSR Komisi III DPRD Gresik saat hearing dengan manajemen PT Linde Indonesia pasca kebocoran. Foto: SYUHUD/BANGSAONLINE

Sementara Anita Rahayu mengklaim bahwa sejak awal berdiri sudah memberikan tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar. Namun, program CSR berkurang setelah pandemi Covid-19.

"CSR dulu-dulu ada. Tapi pasca covid berkurang," sebut Anita.

Sementara terkait kebocoran pabrik yang terjadi pada Minggu (29/7/2025) malam, Andita menjelaskan akibat proses pemanasan mesin pasca shutdown dan overhaul yang dilakukan sejak 1 hingga 25 Juli.

"Kami lakukan maintenance sejak 1 hingga 25 Juli. Setelah itu, mulai melakukan pemanasan (warming up) pada 29 Juli. Di tengah proses itu, dengan tekanan panas 180 derajat celcius, insiden terjadi selama sekitar 15 menit pada pukul 19.45," ungkapnya.

"Insiden itu menimbulkan debu perlite yang membumbung tinggi seperti asap. Material perlite digunakan dalam proses sebagai bahan isolasi untuk menjaga suhu dalam sistem produksi Coldbox," imbuhnya.

Menurut Andita, debu yang ditimbulkan dalam insiden kebocoran adalah perlite, sejenis silika berbentuk pasir, yang digunakan sebagai bahan isolasi atau insulation.

"Perlite itu tak berbahaya, kalau terhirup bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan atau kalau terkena mata jadi iritasi," katanya.

"Saat ini kami tengah investigasi penyebab kebocoran itu dan mendatangkan ahli," pungkasnya.

Turut hadir dalam hearing, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaidah, Camat Manyar Hendriawan Susilo, Plt Kades Roomo, beserta perangkat. (hud/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO