Mukhlas Syarkun. Foto: ist
Oleh: Mukhlas Syarkun
Genap usia 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Bangsa Indonesia terlihat lebih asyik mengenang masa lalu. Bagaimana para pendiri bangsa ini berjuang, kisah-kisah dan berbagai cerita tentang perjuangan heroic. Menjadi perbincangan publik yang begitu intens.
BACA JUGA:
- Forum Muktamar Tebuireng 2025: Turats Nabawi Desak Pemerintah Tinjau Ulang Hilirisasi SDA
- Viral! Warga Temukan Tambang di Lereng Gunung Slamet, Warganet: Gubernurnya Pro Tambang
- "Menghidupkan" Warisan Gus Dur, Bolehkah dengan Melupakan Jejaknya?
- Kisruh PBNU: Tambang dan Holland Taylor, Kenapa Gus Dur Dijadikan Tameng
Hal ini memang positif, namun tentu jangan sampai kita larut dalam nostalgia perjuangan para pejuang dalam ruang hampa, tanpa mengambil hikmah dan inspirasi dari semangat beliau-beliau untuk membawa Indonesia ini mencapai kemerdekaan, cita-cita yang menjadi motivasi para pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi Ibu Pertiwi. Inilah sesuatu yang mendesak diwujudkan.
80 tahun Merdeka adalah momentum untuk merenungkan arah perjalanan bangsa ini. Apakah sudah sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang telah diprasastikan oleh pendiri bangsa ini dalam Mukoddimah Undang-Undang 1945, atau justru kita melenceng terlalu jauh dari cita-cita kemerdekaan itu sendiri.
Ada beberapa hal dari cita-cita itu telah terlaksana, khususnya kemandirian dalam menentukan perjalanan bangsa. Tidak lagi dikooptasi dan didominasi oleh kekuatan asing. Kita berhasil menjadi bangsa yang berperan aktif dalam kanca global dengan tetap menjadi negara yang bebas aktif.
Begitu pula dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa secara kuantitatif.
Memang ada perkembangan yang baik di awal kemerdekaan. Hampir 80% masyarakat buta huruf dan dalam 80 tahun ini, kita telah berhasil meningkatkan pendidikan dari masa ke masa.
Namun, jika dilihat dari upaya menghadapi dinamika dan perkembangan dunia saat ini, maka cita-cita untuk mencerdaskan bangsa masih dibawah standar. Data-data kemampuan sumber daya manusia kita masih kalah dengan negara-negara lain.
Cita-cita untuk kemakmuran bersama patut disyukuri, sebab pasca kemerdekaan sampai era pak pak Karno 75 % rakyat dalam kemiskinan. Pada masa pak Harto menurunkan 1 persen / tahun, selama 30 tahun kemiskinan menurun 30 persen. Pada era Gus Dur mampu menurunkan kemiskinan 2,5/tahun. Selama dua tahun Gus Dur jajdi presiden bisa menurunkan kemiskinan sampai 5 % kemiskinan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




