Sebagai tahap awal, program ini akan diuji coba melalui pilot project yang melibatkan 205 tenaga kesehatan. Uji coba ini akan dilakukan di lima kecamatan, yakni Silo, Jelbuk, Ambulu, Tanggul, dan Jombang.
Para nakes ini memiliki tugas utama melakukan pendataan ibu hamil, mendampingi mereka selama masa kehamilan, dan memastikan mereka mendapat pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan seperti puskesmas.
Dalam pelaksanaannya, tenaga medis akan mengidentifikasi mana ibu hamil yang masuk kategori risiko tinggi.
Mereka yang tergolong rentan akan mendapatkan pendampingan khusus dari nakes, kader posyandu, serta bidan hingga proses persalinan di puskesmas atau rumah sakit.
“Ini untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi sejak masa kehamilan hingga kelahiran,” tutur Fawait.
Dengan langkah strategis ini, Pemkab Jember menargetkan penurunan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Fawait berharap program ini dapat memberikan dampak nyata dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih inklusif dan menyeluruh.
“Kita semua tentu berharap, mulai tahun ini dan di tahun-tahun mendatang, Jember bisa keluar dari posisi tertinggi dalam hal kematian ibu dan bayi,” pungkasnya. (nga/yud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




