Antara Mitos dan Trauma Kolektif: Membaca Fenomena Pugut di Sumbermalang

Antara Mitos dan Trauma Kolektif: Membaca Fenomena Pugut di Sumbermalang Tradisi menjaga kuburan di lereng pegunungan Sumbermalang Situbondo.

Perbedaan durasi ini menunjukkan adanya negosiasi budaya. Masyarakat mulai berkompromi dengan tuntutan hidup modern dan beban ekonomi, namun tetap tidak berani meninggalkan tradisi sepenuhnya.

Pengurangan malam ini adalah bentuk "jalan tengah" antara logika keamanan dan penghormatan pada leluhur.

Mengapa Edukasi Sering Kali Gagal?

Sering kali, pendekatan formal dari tokoh masyarakat atau agama menggunakan logika "hitam-putih" (percaya vs tidak percaya). Namun, bagi warga Sumbermalang, melekan bukan hanya soal melawan makhluk gaib, melainkan soal solidaritas sosial.

Berkumpulnya hingga 50 orang di pemakaman menciptakan ruang komunal yang mempererat ikatan antartetangga. Di sana ada gotong royong, distribusi makanan, dan rasa senasib sepenanggungan. Menghilangkan tradisi ini tanpa memberikan rasa aman pengganti (baik secara psikis maupun fisik) tentu akan ditolak oleh masyarakat.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Mitos

Pugut mungkin saja adalah memori kolektif tentang ancaman hewan buas di masa lalu yang kini terbalut narasi mistis. Namun, bagi masyarakat Sumbermalang, ia adalah realitas yang menentukan cara mereka memperlakukan kematian.

Alih-alih memaksakan masyarakat untuk berhenti percaya, pendekatan yang lebih humanis adalah memahami bahwa tradisi melekan adalah cara warga menjaga martabat anggota keluarga mereka yang telah tiada. Selama rasa takut itu masih nyata, maka di lereng Sumbermalang, api kecil di pusara akan terus menyala hingga pagi menjelang.

Penulis merupakan wartawan HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Pasangan Edi Hadiyanto Daftar Bacakada Situbondo ke PPP':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO