Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau titik banjir.
LAMONGAN, BANGSAONLINE.com - Upaya modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai berhasil menurunkan curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Lamongan.
Berdasarkan prediksi awal, potensi curah hujan pada Januari 2026 diperkirakan bisa mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari. Namun, hasil pemantauan terbaru menunjukkan curah hujan tercatat sebesar 104 milimeter per hari.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penurunan tersebut merupakan dampak dari intervensi modifikasi cuaca yang telah dilakukan. Tanpa upaya tersebut, kondisi hujan ekstrem diprediksi akan jauh lebih parah dan berpotensi memperluas dampak banjir.
“Yang tercatat kemarin 104 milimeter itu sudah dengan modifikasi cuaca. Kalau tidak, kondisinya bisa jauh lebih parah,” ujar Khofifah saat meninjau warga terdampak banjir di Dusun Ladan, Desa Lalaban, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Sabtu (10/1/2026).
Khofifah menjelaskan, program modifikasi cuaca sebagai bagian dari mitigasi bencana telah dimulai sejak 5 Desember 2025. Ia juga kerap membagikan proses pelaksanaan modifikasi cuaca melalui media sosial sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
Namun demikian, ia mengakui adanya keterbatasan kemampuan daerah dalam pelaksanaan teknologi tersebut. Saat ini, Pemprov Jatim baru mampu melakukan modifikasi cuaca di dua titik, sementara pada kondisi tertentu diperlukan intervensi di empat hingga lima titik sekaligus.
“Kalau yang dimodifikasi hanya dua titik, berarti ada wilayah yang tetap menerima curah hujan tinggi,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi BMKG Juanda, puncak curah hujan di Jawa Timur terjadi pada Januari. Secara persentase, curah hujan Desember berada di angka 20 persen, Januari meningkat signifikan hingga 58 persen, dan Februari menurun menjadi 22 persen.
“Artinya, curah hujan di Januari hampir tiga kali lipat dibanding Desember,” tegas Khofifah.
Meski demikian, Khofifah menyoroti keterbatasan teknologi dalam mitigasi bencana alam. Menurutnya, hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan angin maupun gempa bumi.
“Kalau hujan bisa dimodifikasi, tapi angin itu belum ada teknologinya. Kita tidak bisa bilang, ‘angin ojo lewat Lamongan ya,’ itu belum bisa,” ujarnya yang disambut tawa warga.

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Bupati Lamongan bagi warga terdampak banjir. Melalui BPBD Pemprov Jatim, disalurkan berbagai bantuan logistik berupa 20 dus makanan siap saji, 20 dus lauk pauk, 20 dus tambahan gizi, serta 200 paket sembako.
Selain itu, bantuan lain yang diberikan meliputi 120 lembar selimut, 50 dus perlengkapan makan, bantuan sandang untuk pria, wanita, dan lansia, perlengkapan anak, paket kebersihan, serta 150 pasang sepatu boot guna mendukung aktivitas warga di wilayah terdampak. (dev)






