Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Tesis itu ditera pada Ali Imran: 96. “inn awwal bait wudli’a li al-nas lal ladzi bi Bakkah”. Bakkah adalah nama lain dari Makkah, yang artinya berjubel, ramai, dan padat. Seperti kita saksikan pada musim haji.
Sementara Makkah lebih dipakai untuk nama kotanya. Pada lisan orang arab, antara huruf Ba’ dan Mim dari makhraj yang sama. Maka kata “lazim” dan “lazib”, sama artinya.
Kedua, kata “atiq” serumpunan dengan kata kerja “a’taqa”, bebas, merdeka, tidak ada yang mengganggu. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mengganggu rumah Tuhan ini. Karena Tuhan sendiri yang menjaga dan tentu saja tidak ada yang mampu mengalahkan Tuhan.
Raja Abraha dari Negeri Yaman membangun bangunan antik nan super mewah terbuat dari emas murni, semacam rumah ibadah dan berfungsi pula sbagai destinasi wisata dengan tujuan menarik perhatikan dunia, nyaingi Ka’bah di Makkah. Dan ternyata gagal total, tidak laku dan malu. Kalah dengan Makkah yang punya Ka’bah. Kemudian hasud dan marah besar, ingin mengahncurkan.
Pasukan gajah dikerahkan menuju Makkah dan siap menghancurkan Ka’bah dan pasti hancur menurut perhitungan militer. Ya, karena Makkah tidak punya persenjataan.
Sebelum menghancurkan Rumah Tuhan ini, mereka berfoya-foya dengan merampas harta milik penduduk Makkah. Termasuk beberapa ekor unta milik Abdul Muttalib, kakek Rasulullah SAW. Si kakek diberitahu ada Abraha yang datang menyerbu. Apa jawab si kakek?
Dengan tenang mendatangi Raja Abraha dan meminta kembali beberapa ekor unta yang dirampas: “Kembalikan unta kami”.
Abraha terheran: “Gila si kakek tua ini. Beginikah moral tokoh arab? Ternyata kedonyan dan materialistik. Kok lebih perhatian kepada unta ketimbang Ka’bah”.
Begitu halnya cemoohan orang-orang arab sendiri kepada si kakek, lalu dijawab: “Untuk apa kita membela Rumah Atiq itu. Kita bisa apa?. Toh Rumah itu sudah dijaga Sendiri oleh Pemiliknya Yang Maha Segala.” Sembari menudingkan jarinya ke atas langit.
Lalu mereka mengerti, diam, mundur dengan hati pasrah dan jantung berdebar menunggu takdir.
Begitu pasukan gajah mendekat dan belum sampai menyentuh Rumah Tuhan itu, datanglah burung-burung kecil secara rombongan, “ababil”, nawur, menghujani mereka dengan kerikil-kerikil sakti dari neraka. Spontan mereka bersama gajahnya hancur luluh bagaikan rerumputan yang dikunyah-kunyah hewan ternak. Itu diabadikan dalam surah al-Fil secara sempurna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




