Aguk Irawan MN. Foto: dok pribadi
Namun, apa arti seabad jika ia hanya menjadi seremonial belaka? Tantangan di abad kedua ini jauh lebih rumit daripada sekadar menghadapi modernis atau kolonial. Kita hidup di masa di mana "kebenaran" mudah pecah menjadi serpihan-serpihan media sosial.
Eksklusivisme global menggoda, kolonialisme gaya baru dan zionisme menawarkan semu jargon perdamaian dunia, di tengah genosida dan penindasan. NU, di abad keduanya, dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana merawat tradisi di dunia yang tak lagi menghargai durasi?
NU dituntut untuk bergerak melampaui seremoni, menuju transformasi umat yang nyata. Tantangannya adalah menjawab masalah besar manusia—teknologi, keadilan ekologis, dan kemanusiaan—tanpa kehilangan akarnya di pesantren.
Di abad kedua ini, NU tidak boleh hanya menjadi penjaga masa lalu. Ia harus menjadi arsitek masa depan, tempat "tradisi" bukan lagi sekadar fosil, melainkan rujukan yang bernapas.
Maka, 31 Januari 2026 bukanlah sebuah titik finis. Ia adalah koma. Sebuah jeda untuk merapikan sarung, mengambil wudhu, dan kembali melangkah ke tengah gelanggang peradaban yang riuh. Selamat harlah. Semoga NU kian jaya dan manfaat buat umat. Amin.
Penulis merupakan tokoh agama dan sastrawan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




