PKB dan Ikhtiarnya Menjaga Mata Air Pesantren

PKB dan Ikhtiarnya Menjaga Mata Air Pesantren Aguk Irawan. Foto: dok. pribadi

Oleh: Aguk Irawan MN

Ada masa di mana sebuah bilik bambu dan atap rumbia bukan sekadar tempat bernaung dari hujan. Ia adalah sebuah jeda. Di sana, waktu berjalan lambat, dan sunyi dirawat seperti menanam benih padi. Kita mengenalnya sebagai .

Namun jauh sebelum kata itu melekat erat dalam sanubari umat, ia adalah kelanjutan gema dari asrama dan kemandalaan masa lalu, tempat di mana Nagarakretagama dirajut oleh Empu Prapanca di era Majapahit, atau ketika Sakyakerti mengajar ribuan penempuh jalan ruhani di Swarnadwipa Sriwijaya sebagaimana dicatat George Coedès dalam The Indianized States of Southeast Asia (1968).

Di tempat-tempat itu, manusia datang sebagai cantrik, sebagai resi, sebagai penziarah sepi. Mereka melepaskan baju keduniawian untuk menempuh jalan suci. Ketika Sunan Ampel menancapkan tiang pertama di Ampel Denta, tradisi luhur itu tidak dihancurkan; ia disempurnakan. (Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, 2012).

Kamar-kamar santri didirikan bukan sebagai penjara, melainkan sebagai rahim tempat ilmu, adab, dan kasih sayang disemai bersama. Pesantren, sejak mula sejarahnya, adalah sebuah makrokosmos dari rasa aman. Orang tua menitipkan anak-anak mereka dengan keyakinan tinggi, bahwa di tangan para kiai dan nyai, anak-anak mereka tidak hanya akan pandai membaca kitab, tetapi juga akan dijaga jiwanya, dihormati tubuhnya, dan dikasihi keberadaannya.

Namun, sejarah terkadang menyisakan retakan yang perih. Di sela-sela bait suci yang dilantunkan, kita belakangan mendengar ada tangis yang tertahan di sudut-sudut kamar. Ada trauma yang disembunyikan di balik ketakutan akan relasi kuasa yang timpang. Ketika ruang yang seharusnya menjadi benteng moral justru dinodai oleh kejahatan seksual, kita tahu ada sesuatu yang sedang patah di jantung kebudayaan kita.

Laporan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan berbagai temuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia menunjukkan bahwa kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga berbasis agama, merupakan persoalan nyata yang tidak boleh lagi ditutup-tutupi.

Sebab itu, pertemuan di Jakarta dalam rangkaian Temu Nasional Pondok Pesantren tanggal 18–19 Mei bukan sekadar seremonial politik. Penandatanganan Komitmen Bersama Gerakan Pesantren Anti Kejahatan Seksual yang diinisiasi Partai Kebangkitan Bangsa adalah momen keinsafan kultural.

Di bawah komando Muhaimin Iskandar, bersama Nasaruddin Umar, Arifatul Choiri Fauzi, serta Brigjen Pol. Dr. Nurul Azizah dari Bareskrim Polri, para pemuka sesungguhnya sedang memulihkan amanah yang sempat retak.

Ada keberanian moral yang besar ketika KH. Abubakar Sidiq membacakan lima butir komitmen itu. Ia terdengar seperti ikrar pertobatan sekaligus pembelaan. Komitmen itu menegaskan kembali bahwa relasi antara guru dan santri adalah relasi kasih sayang, bukan intimidasi.

Lebih dari itu, ada kerendahan hati yang mendalam untuk meruntuhkan dinding keangkuhan: mengedepankan pendekatan yang berpihak pada korban (victim-centered approach) sebagaimana banyak dianjurkan dalam pedoman United Nations dan World Health Organization tentang perlindungan korban kekerasan seksual.

Sebab kejahatan yang ditutupi tidak akan pernah menjadi suci; ia hanya akan menjadi nanah yang perlahan membunuh jiwa-jiwa muda para santri. Pesantren yang ramah anak bukan sebuah utopia yang asing. Ia adalah kepulangan.

Ia adalah upaya mengembalikan Ampel Denta ke khitahnya. Membiarkan terbuka pada sinergi, akuntabel, dan berani menegakkan keadilan hukum adalah cara terbaik menjaga marwah institusi yang telah berusia berabad-abad ini.

Gus Muhaimin benar: harus menjadi tempat paling aman. Jika di rumah Tuhan dan tempat menuntut ilmu kita tidak lagi menemukan rasa aman, lalu ke mana lagi anak-anak kita harus menitipkan masa depan mereka?

Langkah bersama ini adalah fajar kecil. Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa suci yang telah mengalir sejak zaman para resi hingga para wali akan tetap jernih, tetap mengalirkan berkah, dan senantiasa memeluk anak-anak kita dengan jemari kasih yang tak melukai. Wallahu'alam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO