Dadan Hindayana. Foto: media indonesia
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan dua wakilnya, Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung dan Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya.
Yang menarik, penangkapan itu dilakukan Kejagung beberapa jam setelah Presiden Prabowo Subianto mencopot tiga BGN itu. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengumumkan pencopotan Dadan dan dua jenderal itu pada Selasa 2 Juni 2026 sore. Tapi Rabu 3 Juni 2026 pagi Kejagung sudah menjemput paksa Dadan Hindayani. Bahkan ada informasi beredar bahwa Kejagung sudah mengintai Dadan dan dua jenderal polisi serta TNI itu sejak Rabu pukul 2.00 dini hari.
BACA JUGA:
- Breaking News! Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung Atas Dugaan Jual Beli Titik SPPG
- Dadan Hindayana, Mantan Kepala BGN Dijemput Paksa Kejagung
- Diremehkan Seskab Teddy, Inilah Profil Dino Patti Djalal
- Dianggap Remehkan Dino Patti Djalal, Teddy "Dikeroyok" Ribuan Netizen, Ditanya Apa Kompetensinya
Jarak yang sangat pendek antara pencopotan dan penangkapan mantan tiga petinggi BGN itu menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Terutama di media sosial (medsos). Jangan-jangan Presiden Prabowo dan Kejagung sudah melakukan “koordinasi” sebelum penangkapan itu dilaksanakan.
Bahkan muncul tuduhan bahwa penangkapan tiga mantan petinggi BGN itu adalah pengalihan isu dari kasus Teddy vs Dino. Seperti kita tahu, Seskab Teddy Indra Wijaya dibully secara masif oleh rakyat Indonesia karena dianggap merendahkan Dino Patti Djalal, seorang diplomat senior, gara-gara memberi saran secara terbuka kepada Presiden Prabowo agar mengurangi agenda ke luar negeri karena pemborosan.

Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung
Dino bahkan menyebut angka anggaran sekali ke luar negeri Presiden Prabowo bisa menghabiskan uang negara puluhan miliar bahkan ratusan miliar rupiah. Hotelnya saja – menurut Tempo – menghabiskan uang negara Rp 5,8 miliar. Belum lagi uang saku harian rombongan, biaya pesawat dan lainnya.
Teddy mengkonter Dino. Juga secara terbuka. Presiden Prabowo – menurut Teddy - telah melakukan efisiensi, mengurangi peserta rombongan dibanding dengan era presiden sebelumnya. Bahkan sebagian biaya – klaim Teddy – berasal dari uang pribadi Prabowo.
Selain itu – menurut Teddy, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke luar negeri menghasilkan investasi luar negeri ke Indonesia dalam jumlah ratusan triliunan rupiah.
Namun klaim Teddy itu disanggah Guntur Romli, kader PDIP. Menurut Guntur, klaim Teddy soal investasi luar negeri itu palsu dan menyesatkan karena data yang diangkat Teddy itu termasuk investasi dalam negeri. Bukan hasil kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri. Bahkan sepanjang tahun 2025, menurut Guntur Romli, Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia hampir stagnan. Karena itu Guntur menyebut kunjungan kerja Presiden Prabowo ke luar negeri gagal.

Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya
Kunjungan Presiden Prabowo memang terus menuai kontroversi. Namun dari semua retorika perdebatan itu yang paling banyak mendapat perhatian publik adalah ketika Teddy mengkonter Dino Patti Djalal dengan kalimat: “Beliau pernah menjadi wamenlu, meskipun hanya diberi kesempatan 3 bulan.”
Publik – terutama para netizen di media sosial – menganggap kalimat Teddy itu sebagai penghinaan dan merendahakn Dino Patti Djalal. Padahal karir Dino sebagai diplomat cukup panjang. Ia tidak hanya menjabat wamenlu tiga bulan seperti dikatakan Reddy. Tapi juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Bahkan Dino mendapat tiga penghargaan bintang maha putra atas kompetensinya sebagai diplomat, termasuk dari Presiden Prabowo Subianto.
Nah, berdasarkan rentetan peristiwa itulah para pengeritik Presiden Prabowo – terutama di media sosial – menuduh bahwa penangkapan tiga mantan petinggi BGN itu hanyalah drama politik untuk mengalihkan isu Teddy yang sedang dibully masyarakat.
Benarkah? Sejatinya sulit dinalar. Bukankah Jenderal Pusung dan Dadan Hindayana itu adalah orang dekat Prabowo. Tapi dalam politik semua bisa saja terjadi. Apalagi sekarang legitimasi politik Presiden Prabowo sedang turun drastis. Baik karena rupiah yang terpuruk, ekonomi terus melemah, hutang meningkat, harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, disamping juga program andalannya yang amburadul tapi terkesan dipaksakan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




