Dadan Hindayana. Foto: media indonesia
Tapi apapun alasan dan motifnya kasus penangkapan tiga mantan petinggi BGN itu adalah bukti bahwa pengelolaan MBG selama ini diduga banyak penyimpangan dan korupsi. Ini berarti membenarkan kritik para aktvis dan kelompok sipil.
Bahkan Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, memplesetkan MGB sebagai Maling Berkedok Gizi. Kaos plesetan itu sekarang marak dikenakan para aktivis, termasuk Tiyo.
Naniek Sudaryati Deyang, yang saat itu masih menjabat Wakil Kepala BGN menyayangkan singkatan BGN yang sarkastis itu. Ia menyindir Tiyo membangun narasi tanpa bukti. Ia mengaku berharap malingnya ada dan ditangkap serta dipenjarakan.
"Tapi kok gak ada sampai sekarang," ujar Naniek. Lagi-lagi menyindir Tiyo dan para aktivis.
Ia bahkan mengatakan bahwa Tiyo sebagai mahasiswa yang mewakili intelektual hanya bisa membangun narasi tapi tidak bisa membuktikan apapun. 
Sekarang ternyata kritik para aktivis dan kelompok sipil telah terbukti. Bahkan buah berbagi kritik itu telah membuat Naniek naik pangkat sebagai Kepala BGN yang baru.
Sejak program MBG dijalankan memang banyak sekali kritik dari para aktivis dan kelompok sipil. Bahkan bukan hanya kritik dari para aktivis dan kelompok sipil. Tapi juga banyak keluhan dari berbagai sekolah. Keluhan itu diunggah dalam banyak video kasus siswa-siswi keracunan, sajian nasi dan lauk serta buah yang tak layak dan basi, sehingga dibuang ke tong sampah secara percuma.
Tapi berbagai kritik para aktivis dan kelompok sipil itu tak pernah didengar. Alih-alih kritik mereka didengar, Presiden Prabowo dan orang dekatnya – terutama para pengelola MBG - malah marah.
Memang sangat ironis. Tapi itulah faktanya. Sekarang kita menyaksikan kepala BGN Dadang Hindayana dan dua wakilnya, Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung dan Jenderal TNI Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya ditangkap Kejagung. Mereka diduga memperkaya diri sendiri dengan menarik uang dari mitra BGN yang mau mendirikan dapur MBG. Modusnya mereka memainkan titik lokasi. Satu titik dikabarkan mencapai ratusan juta.
Belum lagi soal tetek bengik uang survey dan sebagainya. Bahkan kabarnya juga ada yang minta per porsi Rp 500 hingga Rp 1.000. Padahal dalam satu titik saja ada yang melayani 3000 siswa-siswi per hari. Wallahua’lam.
Rakyat hanya bisa mengelus dada. Karena anggaran MBG yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran itu diambilkan dari dana APBN. Uang rakyat. Pajak rakyat. Bukan hasil kerja keras pemerintah, misalnya keuntungan BUMN.
Lebih ironis lagi, kabarnya dana MBG yang mencapai Rp 335 triliun itu diambilkan sebagian dari dana anggaran pendidikan dan kesehatan.
Kita semakin prihatin ketika mencermati masa atau tenggang waktu para petinggi BGN itu melaksanakan tugas atau bekerja Prof Dadang Hindayana, Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung dan Jenderal TNI Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya menjalankan tugs sebagai kepala BGN dan wakil kepala belum genap dua tahun. Sekitar 1,5 tahun. Berarti mereka begitu bekerja langsung melakukan dugaan korupsi. Itu berarti di otak mereka sama sekali tak ada niat untuk memperbaiki gizi anak bangsa atau masyarakat. Apalagi mengabdi pada negara.
Di otak mereka hanya ada cuan dan cuan. Wajar jika mereka selalu marah kalau ada yg mengeritik MBG. Karena kepentingam cuannya terganggu.
Beda dengan pemimpin yang punya wawasan kebangsaan dan berniat mengabdi kepada bangsa dan negara. Mereka niscaya punya integritas dan akhlak, sehingga ketika mendapat kritik dari rakyat menerima secara terbuka dan lapang dada karena sadar tentang kesalahan dan untuk kebaikan bersama dan masyarakat. Wallahua’lam bisshawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




