Ketua Bapemperda DPRD Kabupaten Tuban, Hj. Tri Astuti.
TUBAN, BANGSAONLINE.com - DPRD Kabupaten Tuban memastikan akan segera membahas tiga Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang diusulkan oleh Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perangkat Desa Indonesia (DPD PPDI) Tuban. Langkah cepat ini diambil untuk menyesuaikan tata kelola desa dengan regulasi terbaru dari pemerintah pusat.
Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Tuban, Hj. Tri Astuti, menyatakan bahwa pihaknya telah resmi memasukkan usulan tersebut ke dalam program legislasi daerah.
BACA JUGA:
- DPRD Tuban Dorong Penguatan Gerakan Literasi, Soroti Minimnya Pemahaman Demokrasi Pelajar
- Jadi Pemateri di Unirow, Gaguk Sudarmo Ajak Pelajar Tuban Melek Demokrasi Sejak Bangku Sekolah
- Pemkab Tuban Raih WTP 11 Kali Beruntun, Ketua DPRD Minta Pemkab Pertahankan Tren Positif
- Kabel Fiber Optik Semrawut di Tuban, Dewan Dorong Perda Utilitas
"Secara resmi kami mengabulkan usulan PPDI dengan memasukkan tiga Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) sekaligus ke dalam Propemperda Tahun 2026 untuk segera diparipurnakan," kata Tri Astuti saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).
Keputusan strategis ini diambil setelah Bapemperda menggelar rapat audiensi dengar pendapat di Ruang Rapat Komisi II DPRD Tuban pada Senin (15/6/2026).
Rapat tersebut dihadiri oleh anggota Bapemperda, pengurus DPD PPDI, Bagian Hukum Setda, serta Dinsos P3A Pemdes Kabupaten Tuban.
Politikus Partai Gerindra tersebut membeberkan tiga regulasi baru yang resmi diakomodasi ke dalam Propemperda 2026, yaitu Raperda tentang Kepala Desa, Raperda tentang Perangkat Desa, dan Raperda tentang Perubahan Kedua atas Perda Nomor 3 Tahun 2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Astuti yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Partai Gerindra Jawa Timur menjelaskan, audiensi ini merupakan tindak lanjut dari Surat DPD PPDI Tuban Nomor: 07/DPD.PPDI-TBN/V/2026 tertanggal 29 Mei 2026. Surat tersebut berisi permohonan dengar pendapat atas Perda Nomor 16 Tahun 2021 tentang Perangkat Desa.
Revisi ini dinilai mendesak karena Perda yang berlaku saat ini masih berpedoman pada aturan lama, yaitu PP Nomor 11 Tahun 2019.
"Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa dan aturan pelaksana barunya yaitu PP Nomor 16 Tahun 2026 yang diundangkan per 27 Maret 2026 lalu, maka Kabupaten Tuban wajib melakukan langkah cepat penyesuaian hukum," tegas Astuti.
Secara substansi, PP Nomor 16 Tahun 2026 dinilai jauh lebih sederhana, namun membawa perubahan yang sangat fundamental bagi tata kelola desa. Ada dua poin perubahan paling mencolok dalam aturan baru ini.
Pertama, masa jabatan kades berubah dari yang semula 6 tahun (maksimal 3 periode) menjadi 8 tahun (maksimal 2 periode), lengkap dengan jaminan kesejahteraan berupa tunjangan purna tugas.
Kedua, larangan rangkap jabatan. Aturan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) kini diperketat. PNS yang ingin menjadi perangkat desa diwajibkan melepas status PNS-nya secara permanen demi kepastian profesi tunggal.
Sebagai bentuk transparansi dan kerja sama, DPRD Tuban memastikan akan terus membuka ruang bagi para perangkat desa untuk mengawal regulasi ini hingga disahkan.
"Tento dengan ini kami menyambut baik dan menyetujui permintaan dari DPD PPDI Tuban yang ingin dilibatkan secara aktif dalam proses pembahasan bersama Panitia Khusus (Pansus) nanti," tutup Astuti. (wan/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




