Tafsir Al-Hajj 37: Ketundukan Hewan kepada Manusia

Tafsir Al-Hajj 37: Ketundukan Hewan kepada Manusia Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 37. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

37. Lay yanâlallâha luḫûmuhâ wa lâ dimâ'uhâ wa lâkiy yanâluhut-taqwâ mingkum, kadzâlika sakhkharahâ lakum litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum, wa basysyiril-muḫsinîn

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.

TAFSIR

“Kadzalik sakh-kharaha lakum...”. ini anugerah Tuhan, di mana Allah SWT menjadikan manusia itu punya kharisma, punya nyoni, punya haibah di hadapan semua hewan. Hewan yang fisiknya lebih kuat ketimbang manusia, bodinya lebih besar ketimbang manusia, tapi jinak dan tunduk di hadapan manusia.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah hewan ternak yang disediakan Tuhan sebagai halal di konsumsi dagingnya. Unta, kuda, sapi, kerbau, relatif lebih besar dan lebih kuat ketimbang manusia. Tetapi semua itu tunduk dan mudah diatur. Kuda tunduk untuk dijadikan kendaraan. Sapi dan unta yang bobotnya kuintalan begitu, mudahnya disembelih. Apalagi sekadar kambing dan ayam.

Bahkan hewan yang liar seperti gajah, singa, harimau, sering nampak tunduk di hadapan sang pawang. Di beberapa kasus, ikan lumba-lumba di laut lepas menolong nelayan yang tenggelam. Didorong dorong hingga ke pantai dan selamat. Begitu pula singa di hutan. Anjing menemani majikan secara super setia. Dicontohkan terjadi pada ash-hab al-kahfi.

Ini diungkap ayat kaji sebagai peringatan, bahwa Allah SWT sangat sayang dan perhatian terhadap kemaslahatan manusia. Dari perbagai sektor, Tuhan memanjakan dan gratis, agar manusia mengerti dan bersyukur, beribadah, beramal baik, di mana kebaikannya nanti pasti kembali dinikmati sendiri.

Tidak hanya Tuhan yang berbelas kasih kepada manusia, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan umatnya soal ibadah qurban ini. Dialah nabi al-rahmah, nabi penebar kasih.

Suatu ketika beliau berqurban kambing besar nan bagus. Dikerjakaan sendiri dan disembelih sendiri. begitu kambing itu sudah berbaring dan siap disembelih, sambil menadah ke langit beliau berucap: “Bi ism Allah, Allahumm taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa mion ummah Muhammad”.

”Dengan menyebut asma Allah. Ya Allah, terimalah qurban ini. Ini persembahan dari pribadi Muhammad, juga dari keluarga Muhammad juga dari umat Muhammad”. Lalu menyembelih.

Begitu riwayat A’isyah R.A. di shahih Muslim. Jadi, sejatinya, meski di antara kita ada yang belum qurban, kita semua sudah diqurbani oleh nabi. Itu artinya, satu ekor kambing bisa dipersembahkan sebagai qurban untuk sak keluarga. Sak kampung? Tapi tetap lebih baik, satu ekor kambing untuk satu orang. Allah a’lam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Pastikan Harga Stabil Jelang Idul Adha, Wali Kota Mojokerto Sidak Pasar Hewan dan Bahan Pangan':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO