Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Dalam hal ini yang dimaksud adalah hewan ternak yang disediakan Tuhan sebagai halal di konsumsi dagingnya. Unta, kuda, sapi, kerbau, relatif lebih besar dan lebih kuat ketimbang manusia. Tetapi semua itu tunduk dan mudah diatur. Kuda tunduk untuk dijadikan kendaraan. Sapi dan unta yang bobotnya kuintalan begitu, mudahnya disembelih. Apalagi sekadar kambing dan ayam.
Bahkan hewan yang liar seperti gajah, singa, harimau, sering nampak tunduk di hadapan sang pawang. Di beberapa kasus, ikan lumba-lumba di laut lepas menolong nelayan yang tenggelam. Didorong dorong hingga ke pantai dan selamat. Begitu pula singa di hutan. Anjing menemani majikan secara super setia. Dicontohkan terjadi pada ash-hab al-kahfi.
Ini diungkap ayat kaji sebagai peringatan, bahwa Allah SWT sangat sayang dan perhatian terhadap kemaslahatan manusia. Dari perbagai sektor, Tuhan memanjakan dan gratis, agar manusia mengerti dan bersyukur, beribadah, beramal baik, di mana kebaikannya nanti pasti kembali dinikmati sendiri.
Tidak hanya Tuhan yang berbelas kasih kepada manusia, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan umatnya soal ibadah qurban ini. Dialah nabi al-rahmah, nabi penebar kasih.
Suatu ketika beliau berqurban kambing besar nan bagus. Dikerjakaan sendiri dan disembelih sendiri. begitu kambing itu sudah berbaring dan siap disembelih, sambil menadah ke langit beliau berucap: “Bi ism Allah, Allahumm taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa mion ummah Muhammad”.
”Dengan menyebut asma Allah. Ya Allah, terimalah qurban ini. Ini persembahan dari pribadi Muhammad, juga dari keluarga Muhammad juga dari umat Muhammad”. Lalu menyembelih.
Begitu riwayat A’isyah R.A. di shahih Muslim. Jadi, sejatinya, meski di antara kita ada yang belum qurban, kita semua sudah diqurbani oleh nabi. Itu artinya, satu ekor kambing bisa dipersembahkan sebagai qurban untuk sak keluarga. Sak kampung? Tapi tetap lebih baik, satu ekor kambing untuk satu orang. Allah a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




