Afrizal dalam gendongan ibunya. foto: soewandito/ BANGSAONLINE
Meski semua penanganan gratis, Legiyo dan Suminah selalu was-was setiap kontrol ke rumah sakit. “Obatnya gratis, operasinya juga, tapi biaya hidup di sana harus disiapkan,” terang pria yang biasa disapa Giyo ini.
Seperti saat harus menjalani rawat inap selama sebulan, November lalu. Kala itu, Legiyo menghabiskan uang hingga Rp 2 juta untuk biaya hidup. Baginya, uang tersebut sangatlah besar. Hingga, dia harus meminjam ke beberapa tetangga dan kerabat. “Harus ngutang sana-sini,” ujarnya.
Karena keterbatasannya ini, sering kali Legiyo mendapat bantuan tak terduga dari banyak pihak. Misalnya, dokter yang kadang tak menarik biaya. Padahal, mereka lupa membawa surat keterangan miskin.
Di luar itu, ada saja orang tak dikenal yang memberi bantuan di jalan karena melihat kondisi Afrizal. Seperti saat berangkat ke Surabaya beberapa waktu lalu, di tengah perjalanan naik bus, tiba-tiba ada orang yang menyalaminya.
Suminah yang saat itu menggendong Afrizal di tengah padatnya penumpang bus pun membalasnya. Rupanya, orang itu tak sekadar menyalami saja. Melainkan juga memberi uang Rp 100 ribu. “Saya setengah nggak sadar. Baru tahu ada yang beri Rp 100 ribu di tangan saya,” kenangnya. (dit/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




