Gerhana Matahari Total: Langit Gelap, Laut Terbelah, Lapan dan NASA Bersaing

Gerhana Matahari Total: Langit Gelap, Laut Terbelah, Lapan dan NASA Bersaing Pemandangan Gerhana Matahari Total (GMT) yang terlihat di Ternate, Maluku, Rabu (9/3). foto:merdeka

"Biasanya kedua struktur itu kalah terang dengan fotosfer matahari," ujar Rhorom di Pendopo Kota Maba, Maluku Utara, dilansir Liputan6 Rabu (9/3).

Menurut Rhorom, prominensa (lidah api) terlihat di pinggiran utara dan barat matahari. Dengan mata telanjang, kedua struktur itu tampak berwarna merah terang.

Lidah api merupakan gas panas yang melayang di atas permukaan matahari. Lidah api ini merupakan ion-ion yang terkurung medan magnetik yang keluar dari permukaan matahari.

Adapun korona, dia melanjutkan, tampak sebagai cahaya putih yang mengelilingi matahari. Cahaya korona itu berasal dari plasma bertemperatur tinggi.

Korona merupakan lapisan paling luar yang menyelubungi matahari. Lapisan ini tersusun atas ion-ion yang terperangkap oleh medan magnetik matahari.

Gabungan ion dan medan magnetik ini lazim disebut sebagai plasma. Plasma sendiri merupakan fasa benda keempat setelah padat, cair, dan gas. Suhu korona diketahui mencapai 1 juta Kelvin.

Korona hanya bisa dilihat saat matahari total. Penampakannya seperti pendaran cahaya yang keluar dari piringan gelap matahari. Keindahan itu membuat lapisan ini diberi nama korona atau mahkota matahari.

Dalam melakukan penelitian, Lapan seolah 'berkompetisi' dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA). Peneliti dari kedua lembaga mengukur temperatur lapisan terluar matahari ketika matahari total terjadi. Dua teleskop milik Lapan dan NASA sudah berdiri di Pendopo Maba, Kota Maba, Halmahera Timur. Para peneliti sibuk mengatur instrumen yang akan mereka gunakan untuk merekam .

Peneliti Lapan Manuel Sungging Mumpuni menyebutkan lembaganya akan memanfaatkan jendela waktu pengamatan selama 3 menit untuk memotret korona. Cahaya korona dicacah menjadi berbagai warna menggunakan spektograf sebelum jatuh ke kamera. Bias sinar korona itulah yang kemudian menjadi petunjuk peneliti Lapan untuk menentukan elemen-elemen yang menyusun korona matahari.

"Kami bisa mengetahui temperatur korona setelah mengetahui komposisi ini," katanya ketika ditemui di Pendopo Kota Maba.

Metode penentuan komposisi kimia yang dikerjakan Lapan akan bersaing dengan metode pengukuran intensitas korona yang dilakukan NASA. Lembaga penelitian asal Amerika Serikat ini menghitung intensitas 2 bagian korona.

"Ada bagian spektrum korona yang belum bersesuaian dengan model yang dikembangkan ahli astronomi," ujar peneliti NASA Nelson Reginald.

Ilmuwan membagi korona menjadi 2 yaitu K dan F. Korona-K merupakan jenis korona yang sinarnya berasal dari elektron di sekitar matahari. Hamburan inilah yang membuat korona ini terpolarisasi. Adapun korona-F merupakan jenis korona selain korona-K.

Terkait 'kompetisi' yang terjadi antara 2 lembaga penelitian ini, Sungging menyebutnya sebagai hal yang biasa. Menurut dia, yang terjadi sebenarnya adalah ilmuwan menggunakan 2 pendekatan berbeda untuk menyibak rahasia temperatur korona matahari. (okz/kcm/mer/lan)

Sumber: okezone.com/kompas.com/merdeka.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO