Sementara Nur Amin, Kepala Seksi Pemerintah, Desa Banyubang sangat antusias menyambut keberadaan TTP ini. Menurutnya, sebelumnya cara bertanam jagung itu masih tradisional misalnya cara pengolahan tanah dan belum memggunakan varietas unggul. Namun sekarang masyarakat sudah mengetahui mana benih yang unggul dan benih yang tidak unggul.
Dengan adanya TTP, limbah-limbah jagung setelah panen yang selama ini dibiarkan saja di lahan, kini sudah bisa diolah menjadi pakan ternak. Saat ini juga sudah banyak petani yang berasal dari daerah lain di Lamongan yang berdatangan untuk melihat dan belajar teknologi jagung. “Ada yang datang dari kecamatan Tikung dan ada juga yang datang dari Bojonegoro,” ujarnya.
Berdasarkan data, selama tahun 2015, tim TTP BPTP Jawa Timur telah memperkenalkan dan melatihkan 11 teknologi pengolahan makanan berbahan baku jagung kepada Kelompok Agrobisnis Ibu Mandiri desa Banyubang. Pengenalan teknologi pengolahan dilaksanakan melalui tatap muka dan praktek.
Sedangkan ada aspek peternakan sapi, BPTP membawa banyak inovasi teknologi mulai dari teknologi pemeliharaan sapi, pemanfaatan limbah jagung sebagai sumber kosentrat dan pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk untuk tanaman jagung.
Dengan asumsi setiap ha tanaman jagung menghasilkan biomassa sebanyak 20 ton, maka di desa Banyubang tersedia hijauan dari tanaman jagung sebanyak 3.840 ton/musim tanam atau 7.680 ton/tahun. Ketersediaan hijauan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan 430 ekor sapi potong. (qom/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




