"Hanya dengan cover seorang ahli perminyakan," tutur pensiunan jenderal bintang dua TNI itu.
Meski begitu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat tersebut melihat para menteri di ring satu presiden kurang teliti. "Ya pembantunya yang salah, masa presiden ngecek," tandasnya.
Sementara anggota Komisi III DPR, Ruhut Sitompul, mengoreksi kecurigaan Effendi. Menurutnya, tengara tentang operasi intelijen itu berlebihan. Pasalnya Archandra adalah asli warga negara Indonesia.
Ruhut mengaku telah bertemu Archandra setelah dia diberhentikan sebagai menteri. Ruhut menyimpulkan bahwa Archandra adalah orang genius dan warga Indonesia yang tulus berniat mengabdi kepada bangsa dan negaranya.
“Kita kehilangan orang genius yang akan mengabdi pada bangsa dan negara. Saya tanya kepada beliau apakah benar warga Amerika. Dia menjawab: ‘saya belum melepas kewarganegaraan Indonesia saya. Saya masih Indonesia,” ujarnya.
Sementara Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi, kasus dwi kewarganegaraan Arcandra ini mensinyalir bahwa Presiden Joko Widodo dan Arcandra sama-sama dijebak. Sebab ia yakin pasti ada pihak yang dengan sengaja meloloskan proses penyaringan terhadap Archandra.
Menurut dia, ada orang yang membawa nama Archandra untuk diajukan kepada presiden langsung, dengan alasan orang baru yang tidak terkait dengan para mafia energi di Tanah Air.
"Presiden butuh orang baru yang tidak terlibat sama sekali dalam mafia energi, tapi kemudian muncul nama Archandra Tahar yang disodorkan orang dekat yang dianggap memiliki kualifikasi ahli pertambangan dan energi," kata dia, Rabu (17/8).
Muradi menilai memang ada hal yang tidak diperhitungkan Archandra Tahar, yaitu aturan legal formal kewarganegaraan. Merasa mendapatkan rekomendasi dari orang kuat dari lingkaran Jokowi, menurut dia, Archandra tidak memperhitungkan dwikewarganegaraan tersebut.
Selain itu, kata dia, harusnya ada proses screening dari pihak terkait, seperti intelejen. Sehingga bisa mendeteksi adanya masalah kewarganegaraan Archandra sebelum dilantik. Dengan screening yang terlewati itu, menurutnya seperti ada sesuatu yang disembunyikan dalam tahapan proses pengangkatan menteri kemarin. Di sisi lain Archandra Tahar bisa jadi tidak jujur kepada Presiden saat proses akan diangkat menjadi menteri.
"Jadi memang seperti sama-sama dijebak, akhirnya terbungkus oleh ingin berkontribusi lebih di pemerintahan, sedangkan presiden ingin mendapatkan orang ahli yang tidak terikat dengan mafia energi di Indonesia," ujarnya.
Sementara kemarin, Archandra Tahar tiba-tiba muncul di Istana Merdeka, Jakarta. Ia terlihat keluar dari Istana Merdeka sekitar pukul 16.40 WIB, menjelang upacara penurunan bendera yang rencananya akan dimulai pukul 17.00 WIB.
Saat itu, media tengah memperhatikan aksi Gloria Natapradja Hamel yang akhirnya diizinkan menjadi anggota Paskibraka.
Namun, fokus media pun pecah saat Archandra tiba-tiba muncul. Namun, Archandra tidak mau berkomentar banyak kepada media.
Dia mengaku ingin menunaikan ibadah shalat ashar terlebih dahulu dan langsung menuju masjid yang ada di dekat Istana Merdeka. Archandra yang dilantik pada reshuffle atau perombakan kabinet jilid II pada 27 Juli lalu diberhentikan secara hormat oleh Presiden Jokowi, Senin (15/8/2016) malam.
Arcandra dicopot karena kedapatan memiliki paspor Amerika Serikat sejak 2012. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2016 tentang Kewarganegaraan, seseorang kehilangan statusnya sebagai WNI apabila memiliki paspor negara lain. (rol/mer/yah/tic/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




