SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia mendorong pemerintah daerah untuk datang ke Surabaya guna belajar perihal pengelolaan sampah. Surabaya dinilai menjadi contoh bagus dalam penerapan program Gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS) yang dicanangkan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Jend TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Surabaya merupakan salah satu kota terbaik di antara kota-kota besar di Indonesia dalam hal menjadikan lingkungan kota menjadi lebih bersih dan asri, serta mendorong warga kota lebih ramah dan murah senyum.
BACA JUGA:
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Bukan Cagar Budaya Asli, Pemkot Surabaya Hapus Status dan Bongkar Fasad Eks Toko Nam
- Pendaftaran Beasiswa Pemuda Tangguh Dibuka, Pemkot Surabaya Fokus Jemput Bola untuk Warga Desil 1-5
- Surabaya Kejar Penunggak Nafkah, Sistem Notifikasi Muncul Otomatis
“Kita jangan belajar ke luar negeri melulu. Study tour-nya ke Surabaya saja. Surabaya ini kota besar tetapi pengelolaan kebersihan kotanya bagus. Termasuk pemanfaatan sampah menjadi listrik. Karenanya, Surabaya bisa menjadi tempat untuk belajar,” tegas Menko Bidang Kemaritiman seusai rapat koordinasi (Rakor) percepatan budaya bersih dan senyum di Balai Kota Surabaya, Selasa (6/12).
Selain bersama Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Rakor tersebut juga dihadiri Sekda Provinsi Jatim, Ahmad Sukardi, staf dari kementerian, kepala daerah, akademisi dan juga jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Surabaya.
Menteri Luhut menegaskan, bangsa ini dihadapkan pada masalah serius terkait sampah. Bahkan, sebuah data menyebutkan, Indonesia hanya kalah dari Tiongkok dalam hal penghasil sampah. Bahkan, sampah-sampah tersebut tidak hanya berada di darat. Tetapi juga di kawasan perairan seperti pantai.
Ironisnya, hasil penelitian menyebutkan bahwa sampah di laut tersebut dimakan ikan yang kemudian dikonsumsi manusia. Tentunya hal itu membahayakan kesehatan. Karenanya, Kemenko Bidang Kemaritiman menggaungkan program GBBS.
Apalagi, pemerintah RI sudah menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan yang berkunjung ke Indonesia hingga tahun 2019 mendatang yang tentunya akan menjadi sumber penerimaan devisa bagi negara. Untuk mencapai itu, pemerintah sudah menetapkan 10 destinasi wisata prioritas seperti Danau Toba, Gunung Bromo, Pulau Komodo dan beberapa tempat eksotis lainnya di Indonesia. Tentunya budaya bersih dan senyum menjadi salah satu pendukung tercapainya target tersebut.
“Saya titip kepada wali kota dan bupati untuk ikut menyukseskan program ini. Pemerintah daerah bisa ikut berperan. Kuncinya adalah keteladanan,” sambung menteri kelahiran Toba Samosir, Sumatera Utara ini.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




