Bupati Nganjuk Drs H Taufiqurrahman didampingi Wakil Bupati KH Abdul Wachid Badrus saat menerima pusaka dan payung dari Plt Sekda Agus Subagiyo pada prosesi penyambutan peserta boyong. foto: BAMBANG DJ/ BANGSAONLINE
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Boyongan, salah satu tradisi yang terus dilestarikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Tradisi ini merupakan agenda tahunan yang digelar untuk memperingati hari jadi Nganjuk, tak terkecuali pada perayaan yang ke-1080.
Sejak pagi, masyarakat sudah memadati tiap jalan yang akan dilalui peserta boyong. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Boyongan dimulai dari alun-alun Berbek menuju alun-alun Nganjuk dengan menaiki kereta berkuda.
BACA JUGA:
- Film Pesta Babi di Nganjuk Disambut Antusias Penonton
- HUT ke-1089 Nganjuk, Bupati Tekankan Sejarah Manusuk Sima dan Ajak Warga Bersinergi
- Bupati Kediri, Jombang dan Nganjuk Rembug Pembangunan Flyover Mengkreng
- Pasar Murah di Nganjuk Diserbu Warga, Gubernur Khofifah: Kendalikan Inflasi, Stabilkan Harga Bapok
Namun, dalam prosesi boyongan tahun ini agak berbeda dari boyongan pada tahun-tahun sebelumnya. Bupati dan Wakil Bupati yang biasanya menaiki kereta sebagai panglima, digantikan Sekda. Proses itu berlangsung hingga sampai perbatasan alun-alun di mana Bupati dan Wakil Bupati kemudian menjemput arak-arakan dan melanjutkan hingga menuju Pendopo Kabupaten.
Bupati Nganjuk Drs H Taufiqurahman mengatakan bahwa tradisi boyongan merupakan agenda yang terus dilestarikan karena mampu mendatangkan wisatawan. “Setidaknya proses boyong akan menambah daya minat wisatawan luar,” ujarnya.
“Saya sering sampaikan bahwa nganjuk banyak potensi wisata, salah satunya ya boyong,” imbuh Taufiq.
“Saya berterima kasih masyarakat, dan selamat hari jadi Nganjuk ke-1080 tetap antusias dalam pelaksanaan boyong,” ungkapnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




