DR KH Imam Ghazali Said MA
“Wahai Rasulullah, aku didatangi seorang laki-laki yang ingin membeli barang yang tidak kumiliki, apakah aku membelikannya dari pasar”. Maka Rasulullah bersabda “ Janganlah Engkau menjual barang yang tidak Engkau miliki”. (Hr. Abu Dawud:3505)
Namun, jika dia menambahkan harga sendiri di luar harga yang ditentukan, maka dia dianggap menjual barang orang lain dengan harganya sendiri, artinya dia menjual barang yang bukan miliknya.
Nah, jawaban pertanyaan ketiga, hukum keuntungannya halal bagi member yang mampu menjualkan properti-properti tersebut, jika sesuai dengan harga yang ditentukan. Hubungan online di zaman modern ini, oleh sebagian ulama, sudah dianggap cukup mewakili pertemuan antara pihak pertama dan kedua. Meskipun di sana ada juga beberapa ulama yang belum membolehkannya pertemuan yang hanya melalui internet atau telpon. Karena internet dan telepon ini adalah tuntutan zaman dan hampir pesan yang disampaikan dalam telpon dan internet itu dapat dipastikan benar, seperti orang yang bertemu langsung, maka banyak ulama yang menghukumi boleh berpegangan dengan komunikasi dari telpon atau internet.
Adapun masalah admin adalah bukan pemiliknya itu boleh dilakukan dengan akad multitransaksi (al-uquqd al-murokkabah). Bentuk akad ini sudah banyak dilakukan oleh bank-bank syariah di Indonesia dan internasional. Dengan gambaran, admin adalah wakil dari pemilik properti yang diberikan kuasa untuk menjualkan properti-properti tersebut. Kemudian admin menggunakan akad jualah (sayembara) kepada seluruh member bagi yang dapat menjualkan properti properti ini akan mendapatkan bonus sekian persen dari harga penjualan. Dan akad ini sah dan boleh.
Para ulama yang membolehkan akad (transaksi) ini berpegangan pada kaidah fiqih yang berbunyi :
الأصل في المعاملات الإباحة إلا أن يدل دليل على تحريمها
“Hukum asal muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya”.
Dan memang beberapa ulama juga menganggap haram multi akad seperti ini, artinya dalam satu jual beli terdapat beberapa akad atau transaksi (dalam kasus ini adalah wakalah/kuasa dan jualah/sayembara). Mereka berpegangan dengan hadis rasul:
نهى عن بيعتين في بيعة
“Nabi SAW telah melarang adanya dua jual beli dalam satu jual beli”. (Hr. Turmuzi)
Juga hadis bahwa Nabi SAW bersabda :
لا يحل سلف وبيع، ولا شرطان في بيع
“Tidak halal menggabungkan salaf (jual beli salam/pesan) dan jual beli, juga tak halal adanya dua syarat dalam satu jual beli”. (Hr. Abu Dawud)
Maka kesimpulannya adalah masalah multi akad dalam satu transaksi memang masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Namun, beberapa ulama juga menghalalkannya dan membolehkannya. Maka, hasil dari jual beli itu dapat dihukumi halal menurut pandangan ulama kelompok pertama. Wallahu a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




