Surokim berharap kompetisi pilgub mendatang didominasi oleh pemilih yang rasional, sehingga siapa pun yang keluar sebagai pemenang tidak menimbulkan perpecahan di kalangan akar rumput. Karena itu, dirinya mendorong terbangunnya pemilih tradisional yang bisa tercipta lewat keterbukaan informasi publik.
"Jumlah pemilih tradisional masih dominan dalam pemilukada Jatim. Masyarakat yang tinggal di daerah rural jauh lebih tinggi daripada pemilih yang tinggal di daerah urban. Masyarakat rural biasanya memilih calon berdasarkan patron tokoh yang dianut. Tingkat independensi mereka masih rendah. Hal ini yang membuat strategi meraih dukungan dan keterpilihan menjadi sulit dilakukan dan butuh peta komprehensif jika ingin menang kontestasi di Jatim. Pemilu yang ideal mensyarakatkan adanya pemilih rasional, tetapi dalam berbagai hal itu sulit dicapai," paparnya.
“Pemilih rasional linier dengan tingkat pendidikannya. Jika ingin pemilih rasional semakin bertambah maka jumlah perguruan tinggi di kawasan periphery seperti di Madura harus terus didorong dan pendidikan harus semakin maju di Madura. Itu bisa mendorong tumbuhnya pemilih rasional,” tandas Dosen FISIP Unijoyo ini.
Surokim menambahkan, semua pihak tidak boleh lelah membuka informasi dan keterbukaan informasi publik di Madura. Akses informasi penting supaya masyarakat memiliki informasi dan pengetahuan yang up to date untuk memperkuat wawasan dan preferensi dalam pemilu,
"Terlebih Jatim ini daerah ekstrim, jumlah pemilih tradisional banyak, jumlah pemilih rasional juga tengah berkembang, sehingga menuntut strategi yang tepat dari para kandidat dan tidak menerapkan strategi yang sama di masing-masing wilayah. Kawasan ini bisa berbeda baik secara geopolitik maupun kultur politik. Secara geopolitik di Jatim akan efektif memenangkan pilkada jika terjadi koalisi kultural antara kaum nahdliyin dan nasionalis mengingat sebagian besar warga jatim memiliki latar identitas kultural seperti itu".
“Kita wajib mendorong tumbuhnya pemilih yang rasional dan independen karena akan meningkatkan kualitas pemilu. Mereka akan memiliki preferensi dan pertimbangan berdasar atas kehendak diri sendiri dengan ukuran yang logis dan obyektif tidak mudah goyah dan terombang-ambing,” pungkas Surokim. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




