Tiap Bangsa Miliki Nabi Sendiri
"walikull qaum had", setiap bangsa punya nabi sendiri-sendiri. Setiap daerah punya tokoh agama sendiri-sendiri. Setiap desa punya ustadz sendiri-sendiri. Itu merupakan servis Tuhan kepada umat manusia agar tidak kosong tanpa pengetahuan agama, sekaligus menampik seseorang yang tidak beriman dengan alasan tidak mengerti keislaman.
Di sini Tuhan membedakan, antara benar-benar tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Yang benar-benar tidak mengerti karena benar-benar tidak ada juru dakwah yang pernah ia jumpai, maka Tuhan memberlakukan sebagai umat zaman fatrah, tidak ada sanksi neraka, begitu menurut kaum sunny. Tapi golongan Mu'tazilah tak sependapat. Mereka tetap terkena hukuman karena tidak berupaya menggunakan akal sehatnya. Bagi mereka, akal cukup sebagai modal mendapatkan hidayah.
Era informasi sekarang menunjang sebaran keislaman meluas dan merata, sehingga hampir setiap sudut kehidupan bisa didapatkan informasi soal keislaman. Di sini, penting sekali mengisi materi dakwah islamiah melalui media elektronika yang isinya berupa tawaran-tawaran keislaman termasuk alamat-alamat elektronik yang bisa dikunjungi. Wajib bagi umat Islam yang mumpuni mengisi media dakwah ini menurut kemampuan masing-masing.
Penceramah Berilmu Pasti Malu Bernyanyi
Dalam edisi kemarin dikisahkan jika setiap Negara akan memiliki nabi sendiri-sendiri. Era informasi sekarang menunjang sebaran keislaman meluas dan merata, sehingga hampir setiap sudut kehidupan bisa didapatkan informasi soal keislaman. Di sini, penting sekali mengisi materi dakwah islamiah melalui media elektronika yang isinya berupa tawaran-tawaran keislaman termasuk alamat-alamat elektronik yang bisa dikunjungi. Wajib bagi umat islam yang mumpuni mengisi media dakwah ini menurut kemampuan masing-masing.
Untuk itu, ustadz di sebuah desa adalah nabi bagi penduduk desa itu. Maka sang ustadz dituntut terus menimba ilmu agama, karena nabi tidak pernah berhenti menyerap ilmu. Terus menerus belajar sebisanya itulah ciri kenabian, tapi suka tampil dan menikmati fasilitas show adalah ciri pendeta Yahudi dan nasrani zaman dulu. Makanya, andai ada ustadz-ustdzan yang minim ilmu agama tapi kaya tampilan entertainment, rasanya orientasi materi lebih kuat ketimbang sebagai juru bicara Tuhan maupun misi kenabian sejati.
Orang berilmu pasti tidak mau tampil pas-pasan, karena takut keliru dan itu beresiko besar yang mesti dipertanggungajawabkan kelak di pengadilan Tuhan. Sedanghkan penceramah dagelan dan penceramah penyanyi tidak takut soal resiko ini. Orang berilmu pasti malu melawak, menyanyi dan jogetan di tengah-tengah pengajian. Itu tidak patut, mosok kiai menyerukan ketakwaan kok ngajak umat islam jogetan. Penceramah minim ilmu juga tidak malu dipanggil kiai, bahkan menikmati panggilan itu tanpa reserve. Sebab bisa malu itu juga butuh ilmu tersendiri.
Al-Qur'an al-Karim memberikan garis batas yang mudah dan tegas untuk mengukur mana orang mukmin beneran dan mana yang munafik. Mukmin beneran pasti mengajak yang ma'ruf, yang baik-baik dan mencegah yang munkar. Sedangkan orang munafik sebaliknya (al-Taubah: 71 dan 67). Rumusan ini ampuh dan pasti benar untuk menilai keimanan seseorang. Apakah artis yang membuka aurat, berggoyang, berjoget, menebar dosa di hadapan publik itu orang beriman sungguhan atau munafik ?.Penceramah yang ngajak bernyanyi, berjoget, apakah itu kiai sejati atau penceramah munafik?. jika anda merujuk al-Qur'an, maka anda pasti bisa menilai sendiri secara lugas tanpa reka-reka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




