Ilustrasi: Rukyatul Hilal
Nama hisab yang mereka pakai sekarang adalah "Hisab Hakiki", artinya hisab sungguhan. Hal mana, istilah itu dulu tidak ada, tidak populer. Tambahan kata hakiki itu untuk meyakinkan, bahwa hisab garapan Muhammadiyah sungguh otentik dan nyata menurut mereka. Kita wajib hormat terhadap pemikiran dan perbedaan, meski ada guyonannya: Apa hisabnya dulu tidak hakiki?.
Lalu, apa kata tafsir aktual soal status al-HISAB menurut siratan ayat al-qur'an?. Apakah hisab itu hanya ada pada tataran ilmu belaka atau pada tataran pedoman amal?
Menurut yang tertera pada ayat studi ini, ternyata kata al-hisab diantar dengan kata "Li TA'LAMU" (mengetahui), bukan LI TA'MALU (mempraktikkan). Hal itu mengisyaratkan bahwa al-hisab hanyalah sebagai ilmu, sebatas ilmu yang membantu pelaksanaan amaliah dan dalam hal ini belum cukup sebagai pedoman beramal langsung.
Ayat senada ada juga pada surah Yunus: 5, bahkan lebih lengkap dan lebih jelas termasuk menunjuk planet plus manazilnya. Inilah yang dipakai pedoman sedulur Nahdliyin yang punya prinsip, yakni pakai hisab yang dikuatkan dengan rukyah tanpa pengaruh kondisi politik apapun.
Masing-masing juga berpedoman pada al-Hadis seruan rukyah meski pola syarkhnya berbeda. Keduanya telah sama-sama berijtihad sesuai selera. Keduanya sama-sama terpuji dan keduanya sama-sama dirahmati Allah SWT. Mudah-mudahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




