Tafsir Al-Isra' 18-19: Memahami Syukur dari Pepohonan

Tafsir Al-Isra Ilustrasi.

TAFSIR AKTUAL

Penutup ayat 19 berbunyi "faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan". Mereka yang memburu kehidupan akhirat, maka Tuhan akan merespons positif usaha mereka secara berlebih, "masykura". Jauh lebih besar reward Tuhan yang diberikan ketimbang upaya yang dilakukan.

Berbagai varian terkait makna "masykura" ini. Selain makna di atas, ada makna yang diambil dari bahasa tradisi orang-orang arab tempo dulu. Pedesaan arab menyebut pohon yang berbuah sangat lebat, banyak, dan lumintu, dengan "Syajarah Syakirah". Sebutan itu umum di kalangan para petani. Begitu pula terhadap unta betina yang produktif, banyak melahirkan anak yang bagus-bagus dan menyenangkan sang peternak. Mereka menyebutnya "Naqah Syakirah".

Jika diaplikasikan kepada diri kita, maka masykura atau syakira atau bersyukur itu tertuju pada produktivitas ibadah. Kesehatannya standar, tapi ibadahnya banyak. Rezekinya tidak seberapa melimpah, tapi sedekahnya banyak. Asupan makanan biasa, tapi amal kebaikan banyak. Ilmunya tidak seberapa, tapi mengajarnya siang malam. Itulah hamba Allah yang bersyukur.

Berulang kali mengucap alhamdulillah, tapi tidak ada amal perbuatan nyata, maka itu bukan bersyukur sejatinya. Itu kemunafikan yang tidak terasa. Mereka yang makan kenyang, enak dan bergizi, tapi energinya untuk maksiat atau dibiarkan saja, juga aktif berolahraga agar sehat dan setelah sehat, malah santai dan tidak ibadah, meski berucap syukur berkali-kali atas kenyangnya, atas sehatnya, tapi itu bukan bersyukur melainkan kufur. Memang tidak mengkufuri Tuhan, tapi mengkufuri anugerah-Nya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO