Ketua Pergunu Jatim H Sururi (dua dari kanan) saat memimpin Rakorwil. foto: ist
Terkait zonasi, Sururi mengungkapkan, untuk lembaga-lembaga swasta tidak banyak dirugikan, bahkan menjadi peluang dan tantangan. Sebelum ada sistem zonasi, masyarakat permintaannya ke sekolah negeri dulu. Kalau tidak bisa masuk karena tidak mencukupi nilainya, baru masuk ke sekolah swasta.
"Saat sekarang dengan sistem zonasi, maka anak-anak yang pintar juga masuk ke sekolah-sekolah swasta. Tantangannya adalah jangan sampai anak yang masuk ke lembaga pendidikan swasta ini kemudian turun motivasinya," ungkapnya.
Maka, menurutnya, lembaga-lembaga termasuk guru-guru harus bisa memotivasi kepada para wali murid dan siswa bahwasanya sekolah atau lembaga pendidikan swasta bukan berarti lembaga yang jelek dan terbelakang.
"Kalau para siswa-siswi ini belajar dengan sungguh-sungguh, banyak sekolah swasta yang kualitasnya lebih daripada sekolah negeri. Karena saat sekarang ini inputnya murid-murid ke lembaga swasta ini banyak yang berkualitas, insyaallah outputnya nanti akan berkualitas," pungkasnya.
Hadir menjadi narasumber, Sekretaris PWNU Jatim Prof Akh Muzakki, MAg.Grad Dip SEA.MPhil.PhD. Ketua Dewan Pendidikan Prov Jatim serta aktivis dan motivator pendidikan ini juga menitipkan kepada Pergunu menjamin ke-NU-an para siswa selamanya.
Prof Zaki, sapaan Prof Akh Muzakki juga berpesan supaya para guru tidak meninggalkan amalan wirid. Hal ini merupakan ciri khas dari guru-guru pondok pesantren dahulu. (ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




