Bupati Blitar Rijanto, mempraktikkan cara membuat jenang khas Blitar dalam pekan budaya.
BLITAR, BANGSAONLINE.com - Sebuah kolaborasi antara Pemkab Blitar bersama Rumah Blitar Kreatif (RBK) edisi kedua tahun 2019 di Alun-alun Kanigoro kembali digelar, Jumat-Minggu (8-10/11/2019). Acara ini dikemas dalam pekan kebudayaan.
Acara tersebut dibuka langsung oleh Bupati Blitar Rijanto serta dimeriahkan penampilan musik keroncong dan musik jazz.
BACA JUGA:
- Manten Tebu Tandai Dimulainya Musim Giling 2026, PT RMI Targetkan Produksi Hingga 130 Ribu Ton Gula
- PAD Kabupaten Blitar 2025 Hampir Capai Target, Dewan Soroti Retribusi
- ASN di Blitar Wajib Hadir ke Kantor, Bupati Sebut WFA Tunggu Arahan Pemerintah Pusat
- Bupati Rijanto Apresiasi DPRD atas Pengesahan Enam Perda Strategis untuk Kemajuan Kabupaten Blitar
Bupati mengatakan, Pemkab Blitar mendukung penuh digelarnya pekan budaya oleh RBK. Bupati berharap acara ini membawa kemajuan bagi Kabupaten Blitar.
"Lewat kegiatan ini ke depan kami berharap dapat menumbuhkan semangat bagi kita untuk memajukan Kabupaten Blitar melalui budaya, serta peningkatan usaha ekonomi kreatif dan kegiatan kemasyarakatan yang lain," ungkap Rijanto.
Bupati menambahkan, ke depan dia berharap gelaran ini bisa menjadi agenda tahunan dan semakin baik setiap tahunya. Bupati mengusulkan, mulai tahun depan Pekan Budaya Kabupaten Blitar digelar bulan Juni sebagai rangkaian peringatan hari lahirnya Pancasila.
"Harapan kami nantinya pekan budaya dapat melengkapi acara-acara rangkaian peringatan hari lahirnya Pancasila di Kabupaten Blitar. Tahun-tahun sebelumnya, dalam peringatan Hari Pancasila, rutin digelar upacara, tari kolosal, lari protar makam Bung Karno-Candi Penataran, salawatan, dan lainnya," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Rumah Blitar Kreatif (RBK) Purwanto menyampaikan Pekan Budaya Kabupaten Blitar edisi kedua ini mengusung konsep kolaborasi antara budaya tradisi dengan budaya millenial. Pekan budaya ini juga diisi dengan menampilkan kreativitas kaum millennial dalam bazar produk kreatif, mini-festival kopi, dan musik.
“Budaya millenial yang tidak bisa kita tolak ialah musik jazz. Jadi, keroncongnya mewakili yang sepuh, kemudian millenial diwakili oleh jazz. Nyatanya, hingga malam begini, pengunjung tidak beranjak dari tempat. Mereka bertahan dan menikmati musik-musik yang ada,” kata Purwanto. (adv/humas).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




