Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA menandantangani penyerahan tanah wakaf Markas Besar Oelama (MBO) Jawa Timur di Guest House Institut KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur, Rabu (13/11/2019). foto: BANGSAONLINE.com
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA menyerahkan wakaf tanah dan bangunan Markas Besar Oelama (MBO) Jawa Timur kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). MBO ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya para ulama NU yang berjuang dalam peperangan 10 November di Surabaya untuk mempertahakan kemerdekaan RI. Para ulama NU yang bermarkas di MBO itu dikomando KH A Wahab Hasbullah.
Tanah dan bangunan berlokasi di Waru Sidoajo Jawa Timur itu diserahkan Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada PBNU lewat KH. Sholeh Hayat, salah seorang Pengurus Wilayah NU Jawa Timur di Guest House Institut KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (13/11/2019). Saat penandatangan itu juga disaksikan Drs Fathurrohman, salah satu ketua PCNU Kota Surabaya dan M Mas'ud Adnan, Pemimpin Umum HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com yang kebetulan bersama Kiai Asep Saifuddin Chalim.
BACA JUGA:
- UAC Bakal Buka Program Nuklir, Program Hukum Keluarga Islam Jadi Ilmu Layak Jual, Jika...
- Siap Tanggung Konsumsi Muktamirin, Kiai Asep Persilakan Amanatul Ummah Ditempati Muktamar ke-35 NU
- NU Babak Belur Hadapi Era Kolonialisme Algoritma?
- Keren! Bahas Financial Freedom, Dahlan Iskan Tampil Energik di Depan Santri MBI Amanatul Ummah
Ia menandangani sejumlah dokumen administrasi pengurusan pindah hak kepemilikan dari Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada PBNU.

“Tanah itu saya beli saat saat saya jadi Ketua PCNU Surabaya. Saat jadi ketua PCNU Surabaya, saya banyak sekali belanja aset NU yang saya beli dengan uang saya sendiri,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim yang dikenal sebagai ulama miliarder tapi dermawan kepada BANGSAONLINE.com saat menandatangani penyerahan aset tanah MBO Jawa Timur itu kepada PBNU.
“Waktu saya terpilih jadi Ketua PCNU Surabaya, PCNU kan gak punya aset. Mesin ketik aja gak punya, karena gak tahu dibawa ke mana oleh pengurus sebelumnya. Akhirnya saya belikan banyak mesin ketik elektronik, termasuk MWC-MWC NU juga saya belikan dengan uang pribadi,” kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto yang memiliki 10.000 santri lebih itu.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




