Jumat, 04 Desember 2020 15:06

​Di Bojonegoro, Said Aqil Ajak Mahasiswa Waspadai Paham Radikalisme

Kamis, 12 Desember 2019 00:24 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Eky Nurhadi
​Di Bojonegoro, Said Aqil Ajak Mahasiswa Waspadai Paham Radikalisme
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat memberikan materi tentang radkalisme.

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyebut jika paham Islam khilafah berkembang secara masif di Indonesia. Paham itu sangat berpotensi mengancam ideologi Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Said Aqil mengatakan, paham Islam khilafah selain masuk di perguruan tinggi, akhir-akhir ini perkembangannya juga sudah masuk di wilayah militer.

"Jika hal itu dibiarkan, bisa memicu pemikiran ekslusif yang memunculkan sikap intoleran. Dan bisa berkembang menjadi sikap radikal," ujar Said Aqil Siradj saat menjadi pemateri di acara Seminar Nasional bertema Islam Nusantara, Solusi Radikalisme, yang diselenggarakan Institut Agama Islam (IAI) dan Universitas Nadhlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, Rabu (11/12/2019) petang.

Bahkan, menurut anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu, masuknya paham radikalisme kebanyakan sudah masuk di level keempat atau tingkatan yang paling berbahaya. Level kesatu, kata dia, baru doktrin, level kedua mulai di doktrin radikal, ketiga mulai ekstrie.

"Dan level keempat mulai ngebom. Kebanyakan level empat mulai menolak," kata Said Aqil.

Menurutnya, untuk menangkal masuknya paham radikalisme ini, perlu adanya Islam Nusantara. Gerakan Islam yang menghormati kebudayaan masing-masing yang menjadi dasar. Islam yang bukan hanya teologi sosial dan ibadah saja, tetapi Islam yang memiliki misi kepada Tuhan, misi nasionalisme, dan misi kemanusiaan.

Banyak negara berkonflik dan tidak berkesudahan seperti di Timur Tengah ini, menurut Said Aqil, pada dasarnya karena belum harmonis antara agama dan kebudayaannya. Ketika ada budaya datang, larut sehingga ada yang menerima dan ada yang menolak dengan cara radikal.

"Kita punya sikap yang moderat dan tidak kagetan, budaya barat asalkan tidak mengganggu budaya kita, kita terima. Jadi Islam Nusantara itu harmonis dengan budaya," terangnya.

Sementara, Akademisi, Kolumnis dan Penulis Buku yang juga menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, Mundzar Fahman mengatakan, radikalisme adalah tolak pemikiran yang inginnya melakukan perubahan secara mendasar dan menyeluruh.

"Jika perlu menggunakan kekerasan untuk memenuhi tujuan tersebut," ungkapnya.

Gerakan-gerakan radikalisme ini, mulai banyak disebarkan, mulai dari kajian-kajian maupun melalui media sosial. Menurut Dewan Pakar Aswaja Center NU Bojonegoro, Agus Sholahudin, hari ini banyak aktor yang sengaja menciptakan berita hoaks untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap pemerintahan yang sah.

"Hal itu jangan sampai dianggap remeh. Ideologi Aswaja ala NU ini yang mungkin tidak bisa dimanfaatkan ideologi ekstrem para pelaku untuk aksi radikalisme," tegasnya kepada ribuan mahasiswa yang mengikuti Seminar Nasional di Gedung Serba Guna, Bojonegoro. (nur/ian)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya. Silakan kirim...