Patroli Berskala Besar, Pemprov Jatim Bagikan Masker di Pasar Keputran

Patroli Berskala Besar, Pemprov Jatim Bagikan Masker di Pasar Keputran Kepala Disperindag Jatim, Dr. Drajat Irawan memberi keterangan kepada wartawan di Pasar Tradisional Keputran, Surabaya. foto: DIDI ROSADI/ BANGSAONLINE

Selain itu, lanjut Drajat yang tak kalah penting adalah ketersediaan pos kesehatan untuk antisipasi kalau ada pedagang atau pembeli yang sakit, serta penyemprotan disinfektan minimal dua kali dalam seminggu.

“Ternyata fakta di lapangan, belum banyak yang pakai masker, sehingga Ibu Gubernur sengaja ingin memberikan masker kepada pedagang dan pembeli di Pasar Keputran dengan harapan semoga mereka dengan menggunakan alat ini bisa mencegah penularan virus Corona, karena memang virus ini di antara penyebarannya ketika kemudian social distancing-nya kurang dari 1 meter,” jelas Drajat.

Ia berharap ada perbaikan dan upaya untuk mengatur jam kerja, mengatur jarak antara pedagang. Dan pembeli dan yang tak kalah penting adalah sudah dibuat pasar tradisional online, seperti yang sudah ada di Malang, Probolinggo, Jember, dan lainnya.

“Pedagang-pedagang ini menyetorkan data-datanya, kemudian kita bantu lewat online pemasarannya. Makin banyak online sistem yang dibuat, ini akan semakin bagus. Sebab selama ini baru ada 1.370 pedagang yang mendaftarkan komoditinya lewat pasar-pasar online itu bisa lihat WA grup dan lainnya, sehingga masih banyak yang belum diakomodir,” ungkapnya.

Di tambahkan Drajat, pergerakan harga berbagai komiditas saat ini relatif stabil, mulai dari bawang merah, bawang putih dan bahan pokok lain seperti beras, minyak goreng, cabe rawit. Hanya gula yang masih tinggi,

“Tapi hari-hari ini sudah masuk 35 ribu ton gula impor, lalu akhir April masuk lagi 21 ribu ton, lalu ditambah lagi 30 ribu ton yang akan masuk. Mudah-mudahan segera stabil, atau paling tidak bisa turun dari harga sekarang yang masih di kisaran Rp.18-Rp.19 ribu per kilo,” bebernya.

Ia mengakui untuk menstabilkan harga gula ini yang masuk adalah gula impor. Alasannya, musim giling tebu baru dimulai bulan Juni mendatang. Sementara kebutuhan Jatim per bulan adalah 37 ribu ton, namun yang akan masuk gula impor sekitar 70 ribu ton, sehingga bisa mencukupi sampai masuk musim giling.

“Kalau HET (Harga Eceran Tertinggi) gula itu sebenarnya Rp.12.500 per kilo. Tapi sekarang ini kan ada masalah distribusi dan lain sebagainya, sehingga harga menjadi naik. mudah-mudah bisa berangsur-angsur kembali normal atau turun,” pungkas pria berkumis tebal ini. (mdr)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Warga Kota Pasuruan Berebut Minyak Goreng Curah Saat Gubernur Jatim Pantau Operasi Pasar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO