Petugas saat rapid test perwakilan perusahaan di lantai IV Kantor Pemkab Gresik. foto: SYUHUD/BANGSAONLINE
Lebih jauh bupati menyatakan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi sejak sebelum terjadinya pandemik Corona terjadi.
"Kami sudah melakukan sosialisasi yang terus menerus, mulai dari sosialisasi massal yang dihadiri oleh 2.000 orang dan menghadirkan ketua Ikatan Dokter Spesialis Paru dan Kepala Dinkes Provinsi Jawa Timur," ungkapnya.
"Sejak saat itu, kami selalu dan selalu melakukan sosialisasi. Kalau dilihat dari perkembangan, jumlah terkonfirmasi positif COVID-19 di Gresik tidak separah kabupaten/kota tetangga," terangnya.
Wakil Bupati (Wabup) menjelaskan bahwa kalau diteliti dari tracing (penelusuran) penyebaran COVID-19 di Gresik hanya satu yang berasal dari Gresik murni, yaitu korban yang dari Kecamatan Sidayu. Sedangkan yang lain terbagi dari klaster Surabaya sebanyak 25 orang, klaster Jakarta 4 orang, klaster haji 2 orang, dan klaster pelayaran sebanyak 4 orang.
Wabup juga menyatakan agar kejadian seperti perusahaan rokok Sampoerna itu tidak terjadi di Gresik, makanya perusahaan diminta lakukan rapid test.
"Kami juga tak ingin kejadian rapid test di pasar seperti di kabupaten tetangga juga tidak terjadi di Pasar Gresik," harapnya.
Sementara Ketua DPRD Gresik, Fandi Ahmad Yani juga meminta agar perusahaan memberlakukan standarisasi pemeriksaan karyawan sesuai standar protokol kesehatan WHO.
Setelah melaksanakan rapat, perwakilan perusahaan melakukan pemeriksaan rapid test yang sudah disiapkan di lantai I. Hasil dari rapid test tersebut semuanya negatif. (hud/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




