Tafsir Al-Kahfi 22: Dalil Bolehnya Bersilang Pendapat

Tafsir Al-Kahfi 22: Dalil Bolehnya Bersilang Pendapat Ilustrasi.

Kedua, sebagai kalimah cemoohan, seolah Tuhan berkata: "kalian ngawur, sok tahu, asal ngomong dan lain-lain". Rajma, artinya lemparan. Ghaib, artinya tak terlihat. Melempar ngawur-ngawuran, asal melempar tanpa dasar dan arah yang jelas. Karena posisi tesis ini ada setelah dua pendapat tersebut, maka fungsinya sebagai teguran sekaligus koreksi bahwa dua pendapat di atas adalah SALAH.

Lalu Tuhan melanjutkan pembicaraan dengan mengungkap pendapat kelompok ketiga yang mengatakan, bahwa mereka berjumlah tujuh orang plus satu ekor anjing, sehingga total berjumlah delapan. " wa yaqulun sab'ah wa tsaminuhum kalbuhum".

Pendapat ketiga ini lepas dan posisinya setelah komentar Tuhan "rajma bi al-ghaib". Maka bisa dibaca, bahwa pendapat inilah sesungguhnya yang benar menurut Tuhan, in sya' Allah. Meskipun begitu, karena ini urusan ghaib, maka Allah SWT memberi wejangan:

Pertama, "qul Rabby a'lam bi 'iddatihim". Katakan, bahwa Tuhan maha mengetahui jumlah mereka. Artinya, bisa jadi pendapat kelompok ketiga tadi kebenarannya bersifat kebetulan. Karena mereka sama-sama tidak punya dasar dan diperoleh dari cerita ke cerita. Atau sebagai isyarat, bahwa dasar yang dipakai kelompok ketiga lebih akurat ketimbang dasar dua kelompok sebelumnya.

Kedua, adalah ajaran etika, meskipun pendapat anda bagus, analisis anda cerdas dan pandangan anda genius, maka janganlah pongah. Di atas segalanya masih ada Tuhan yang maha mengerti segalanya. Maka katakan "Allah a'lam" di akhir pendapat yang anda kemukakan. Makanya, para ulama' tempo dulu, setelah membahas persoalan jelimet dan bertele-tele, pada akhirnya ditutup "Allah a'lam".

Kedua, "ma ya'lamuhum illa qalil". Hanya sedikit orang yang benar-benar tahu persoalan. Artinya, orang yang mengerti sungguhan, alim beneran, punya keahlian spesial itu sedikit. Sedangkan yang asal mengerti saja itu banyak. Bahkan yang sok mengerti juga banyak. Maka jadilah yang pertama, karena setiap ucapan itu dipertanggungjawabkan.

Ketiga, "fa la tumari fihim illa mira' dhahira". Pesan globalnya "Jangan debat, kecuali jelas". Persoalannya tertumpu pada dlamir "him, fihim" (tentang mereka). Siapa yang dimaksud?

Pertama, yang dimaksud dalam dlamir "him", kata ganti jamak (jamak mudzakar ghaib) ini adalah ashabul kahfi. Maka pesannya, jangan mendebatkan sejarah masa lampau yang tidak jelas datanya. Jangan debat soal valid dan tidak, maka akan menjadi debat kusir dan tidak ada yang mau mengalah. Kecuali jelas. Artinya ditemukan fakta sejarah otentik atau analisis ilmiah. Apapun itu, akan lebih baik diambil hikmahnya saja.

Kedua, "him" merujuk pada ahli kitab. Dasar pendapat ini merujuk pada latar belakang historis, di mana sekelompok ahli kitab mempermasalahkan jumlah personil ashab al-kafhi di hadapan Nabi SAW, lalu turun ayat. Maka, kita dilarang mendebat ahli kitab, memperolok agama lain jika tidak ada alasan yang sangat jelas. Pendapat ini selaras dengan siyaq al-kalam berikutnya, yaitu:

Keempat, "wa la tastafti fihim minhum ahada". Secara tegas penutup ayat ini melarang umat islam meminta pendapat kepada ahli kitab, pendeta Yahudi dan Nasrani. Tentu saja ini nasehat umum dan sifatnya hati-hati, utamanya masalah agama. Karena sejarah membuktikan bahwa kebohongan mereka dalam soal agama sangat nyata. Tentu masih ada ahli kitab yang shalih, jujur, dan dapat dipercaya.

Dengan pengungkapan perbedaan pendapat soal jumlah personil ashab al-kahfi di atas lengkap dengan penjelasan Tuhan seperti tertuang pada ayat studi, hal itu menunjukkan bahwa berbeda pendapat itu dibenarkan, mendiskusikan masalah khilafiah itu tidak dosa. Tapi tetap mematuhi etika dialog.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO